Krisis Tenaga Kerja dan Kegagalan Kapitalisme Mewujudkan Kesejahteraan

baraNews

Jumat, 5 September 2025 - 08:46 WIB

502,766 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Noura (Pemerhati Sosial dan Generasi)

Krisis tenaga kerja tengah menghantui dunia. Di berbagai negara besar seperti Inggris, Prancis, Amerika Serikat, hingga Cina, angka pengangguran justru merangkak naik. Fenomena baru bahkan muncul: orang terpaksa “pura-pura bekerja” atau bekerja tanpa digaji, sekadar agar terlihat memiliki pekerjaan.

Indonesia pun tidak bisa bernafas lega. Meski data resmi menyebut angka pengangguran nasional menurun, faktanya separuh dari jumlah pengangguran adalah anak muda. Generasi yang seharusnya menjadi motor perubahan justru terjebak dalam lingkaran pengangguran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kapitalisme dan Akar Krisis Tenaga Kerja

Krisis tenaga kerja global sejatinya menyingkap kegagalan mendasar sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ini mengklaim mampu menciptakan kesejahteraan melalui mekanisme pasar bebas, tetapi realitas justru menunjukkan sebaliknya: kapitalisme melahirkan ketimpangan akut dan pengangguran struktural.

Akar persoalan utamanya adalah konsentrasi kekayaan pada segelintir orang. Laporan Celios (2024) menyebutkan, kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan 50 juta rakyat Indonesia. Data ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata bagaimana harta dunia menumpuk di tangan minoritas, sementara mayoritas rakyat harus berebut peluang kerja yang semakin sempit.

Negara dalam sistem kapitalisme pun cenderung melepaskan tanggung jawabnya. Alih-alih menjadi penjamin kesejahteraan rakyat, negara lebih banyak berperan sebagai regulator yang tunduk pada kepentingan korporasi. Tidak heran bila solusi yang ditawarkan hanya sebatas “job fair” atau pembukaan jurusan vokasi baru. Padahal, industri sedang diguncang gelombang PHK, dan banyak lulusan vokasi justru tetap menganggur.

Kapitalisme juga menjadikan lapangan kerja bergantung pada iklim investasi dan keuntungan segelintir pemilik modal. Akibatnya, pekerja mudah dikorbankan saat resesi atau krisis global. Dalam kerangka inilah anak muda semakin rentan menjadi korban: dianggap belum berpengalaman, mudah digantikan, dan siap menerima upah murah.

Islam dan Jalan Keluar dari Krisis

Berbeda dengan kapitalisme yang abai, Islam memandang penguasa sebagai ra‘in (pengurus) bagi rakyatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab memastikan setiap warga memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak. Bukan hanya dengan membuka lowongan, tetapi dengan menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat: distribusi kepemilikan tanah yang adil, industrialisasi berbasis kepentingan rakyat, pemberian modal tanpa riba, serta pendidikan yang menyiapkan SDM sesuai kebutuhan masyarakat.

Sistem ekonomi Islam juga memastikan kekayaan tidak menumpuk pada segelintir pihak. Allah ﷻ berfirman:

“… supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. al-Hasyr: 7).

Dengan prinsip distribusi yang adil ini, peluang kerja terbuka luas. Generasi muda tidak lagi menjadi korban, melainkan pilar utama pembangunan peradaban. Pekerjaan bukan sekadar angka statistik, tetapi hak yang dijamin negara.

Penutup

Krisis tenaga kerja global hari ini menunjukkan dengan gamblang: kapitalisme gagal menghadirkan kesejahteraan. Fenomena pengangguran massal, ketimpangan kekayaan, hingga generasi muda yang menjadi korban utama, semuanya merupakan buah dari sistem yang salah urus.

Selama kapitalisme tetap menjadi fondasi, pengangguran akan selalu menjadi masalah kronis. Sudah saatnya dunia, termasuk Indonesia, menoleh pada Islam sebagai alternatif. Islam tidak hanya menawarkan solusi teknis, tetapi menghadirkan paradigma menyeluruh yang menempatkan kesejahteraan rakyat—bukan kepentingan kapital—sebagai tujuan utama.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Berita Terkait

Kebutuhan Gizi Masyarakat Dijamin Penuh Negara
Sistem Kapitalis Bengis Menjadikan Pajak dan Bea Cukai Tumpuan Pendapatan Negara
SWI: Jangan Biarkan Kekerasan Terhadap Jurnalis Menjadi Budaya Baru
SWI Tegaskan Kebebasan Pers Bukan Monopoli: Tolak Narasi Wajib Kerja Sama dengan PWI
Negeri Merdeka, Anak Rakyat Sulit Sekolah
Pajak : Instrumen Kapitalisme untuk Bertahan dengan Mengorbankan Rakyat
Mampukah Kampung Tangguh Mencegah Narkoba di IKN?
Kapitalisme dan Pajak yang Mencekik, Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 19:35 WIB

Erupsi Gunung Anak Krakatau Lumpuhkan 8 Bandara, 712 Penerbangan Dibatalkan

Minggu, 6 September 2026 - 19:29 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Operasional Penyeberangan Merak-Bakauheni Tetap Dipaksakan Berjalan

Minggu, 6 September 2026 - 18:35 WIB

Komdigi Klaim Blokir 8,8 Juta Lebih Situs Judi Online

Jumat, 4 September 2026 - 18:44 WIB

Mengapa Kasus Keracunan pada Program Makan Bergizi Gratis Terus Terjadi dan Menelan Ribuan Korban di Berbagai Daerah?

Jumat, 4 September 2026 - 07:12 WIB

Gubernur Kalbar Bentak Mahasiswa Saat Dicegat di Bandara, Tuntutan Karhutla Meledak di Depan Umum

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:49 WIB

Respons Hercules soal Kericuhan Pascademo DPR dan Komunikasi dengan Habib Bahar

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:44 WIB

Video Lama Wakil Gubernur Kalimantan Barat Kembali Viral di Tengah Sorotan Terhadap GRIB Jaya

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:01 WIB

DPP SWI Dorong Kepengurusan yang Efektif demi Pelayanan Organisasi yang Lebih Optimal

Berita Terbaru