Fenomena Sungai Kapuas Mengering, Warga Sekadau Manfaatkan Hamparan Pasir

baraNews

Minggu, 6 September 2026 - 19:20 WIB

5036 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEKADAU — Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kalimantan Barat telah menyebabkan debit air Sungai Kapuas menyusut drastis, hingga memunculkan dasar sungai yang kini menyerupai hamparan pasir luas layaknya sebuah pantai. Fenomena alam ini menarik perhatian masyarakat di Kabupaten Sekadau yang memanfaatkannya sebagai destinasi rekreasi baru di tengah kondisi lingkungan yang semakin kering.

Menyusutnya volume air sungai terpanjang di Indonesia ini tidak hanya mengubah lanskap tepian sungai, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas logistik. Sebuah kapal tongkang yang biasanya digunakan untuk mengangkut kernel sawit dilaporkan terjebak di tengah sungai akibat rendahnya permukaan air. Selain itu, fenomena langka munculnya batu besar yang dikenal warga lokal sebagai Batu Lisuk di Desa Merapi pun terlihat jelas ke permukaan karena air yang tidak lagi menutupi bebatuan tersebut.

Kondisi kekeringan ini memicu kekhawatiran serius terkait dampak ekologis dan sosial yang lebih luas. Penurunan permukaan air berdampak negatif terhadap ekosistem sungai, yang ditandai dengan mulai ditemukannya ikan yang mati. Para ahli dan otoritas setempat mengingatkan bahwa kondisi ini meningkatkan risiko krisis air bersih bagi warga, potensi intrusi air laut, serta ancaman kebakaran hutan dan lahan yang cenderung meningkat selama musim kemarau ekstrem.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau tahun ini diprediksi terjadi pada bulan Agustus dan diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga November 2026. Data resmi menunjukkan bahwa lebih dari setengah wilayah daratan Indonesia mengalami musim kemarau dengan kategori di bawah normal, yang artinya kondisi cuaca jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun biasanya. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana lingkungan yang mungkin menyertai kemarau panjang ini, mengingat Sungai Kapuas sebagai urat nadi kehidupan di Kalimantan Barat kini tengah menghadapi tekanan lingkungan yang cukup berat pada Senin, 7 September 2026. (*)

Berita Terkait

Kebakaran Landa Permukiman Padat di Duren Sawit, Puluhan Bangunan Hangus Terbakar
Kabut Asap Selimuti Pekanbaru, Kualitas Udara Masuk Level Berbahaya
Dari Penolakan hingga Dugaan Pelanggaran, Proyek Tower Batununggal Kian Mengundang Tanda Tanya
Jumat Berkah XTC Indonesia Kota Cirebon, Wujud Nyata Kepedulian kepada Masyarakat
Edi Suprapto: Pelantikan DPP SWI Menjadi Tonggak Kebangkitan Organisasi Pers yang Berdampak bagi Bangsa
DPP SWI Audiensi dengan Dewan Pers, Bahas Regulasi Baru dan Penguatan Profesi Wartawan
Langkah Besar Dimulai di Bandung, XTC Gelar Rakernas I
DPRD Boyolali Dukung HKPS 2026 dan Munas SWI

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 19:35 WIB

Erupsi Gunung Anak Krakatau Lumpuhkan 8 Bandara, 712 Penerbangan Dibatalkan

Minggu, 6 September 2026 - 19:29 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Operasional Penyeberangan Merak-Bakauheni Tetap Dipaksakan Berjalan

Minggu, 6 September 2026 - 18:35 WIB

Komdigi Klaim Blokir 8,8 Juta Lebih Situs Judi Online

Jumat, 4 September 2026 - 18:44 WIB

Mengapa Kasus Keracunan pada Program Makan Bergizi Gratis Terus Terjadi dan Menelan Ribuan Korban di Berbagai Daerah?

Jumat, 4 September 2026 - 07:12 WIB

Gubernur Kalbar Bentak Mahasiswa Saat Dicegat di Bandara, Tuntutan Karhutla Meledak di Depan Umum

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:49 WIB

Respons Hercules soal Kericuhan Pascademo DPR dan Komunikasi dengan Habib Bahar

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:44 WIB

Video Lama Wakil Gubernur Kalimantan Barat Kembali Viral di Tengah Sorotan Terhadap GRIB Jaya

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:01 WIB

DPP SWI Dorong Kepengurusan yang Efektif demi Pelayanan Organisasi yang Lebih Optimal

Berita Terbaru