PEKANBARU, 25 Agustus 2026 – Kota Pekanbaru, Riau, kini tengah dikepung kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas. Kondisi ini menyebabkan kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau tersebut merosot tajam hingga menyentuh kategori berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pantauan di lapangan, konsentrasi partikulat PM 2.5 di Pekanbaru tercatat mencapai angka 339,9 mikrogram per meter kubik. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya, yang sekaligus menandai level terburuk sejak kabut asap mulai menyelimuti wilayah tersebut dalam sepekan terakhir. Sayangnya, upaya pemantauan mandiri oleh warga terkendala akibat kerusakan alat pencatat kualitas udara di Jalan Sudirman, yang membuat masyarakat kesulitan mengetahui kondisi udara terkini secara akurat.
Paparan kabut asap yang telah meluas ke berbagai sektor, mulai dari pusat pemerintahan, pemukiman penduduk, hingga pusat perdagangan, memicu kekhawatiran serius terkait ancaman kesehatan. Masyarakat kini mulai mengeluhkan sesak napas, terutama pada pagi dan siang hari, serta risiko meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan, pneumonia, hingga iritasi mata. Sebagai langkah respons cepat, aparat kepolisian telah mengerahkan tim di berbagai jalan protokol untuk membagikan 500 masker kepada para pengendara yang melintas.
Selain berdampak pada kesehatan, kabut asap juga mengancam sektor transportasi udara. Kawasan Bandara Sultan Syarif Kasim II dilaporkan tertutup kabut asap cukup pekat, yang memicu kekhawatiran terhadap keselamatan keberangkatan dan pendaratan pesawat. Kendati demikian, pengelola bandara menyatakan bahwa hingga saat ini operasional penerbangan masih berjalan normal tanpa adanya penundaan jadwal.
Di sisi lain, tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, dan BPBD terus berjibaku memadamkan titik api di dua kabupaten, yakni Pelalawan dan Kampar. Fokus pemadaman di Kabupaten Pelalawan menyasar lahan seluas sekitar 700 hektar, di mana separuh dari total area tersebut dilaporkan berhasil dikendalikan. Guna mendukung operasi tersebut, otoritas terkait telah mengerahkan 150 alat berat serta membangun 180 embung sebagai cadangan sumber air di lokasi kebakaran. (*)































