Respons Sekretariat Kabinet atas Kritik Mahasiswa Tuai Polemik di Media Sosial

baraNews

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:35 WIB

5030 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Respons pemerintah terhadap aksi kritik mahasiswa di kawasan Bundaran HI, Jakarta, memicu perdebatan luas di media sosial. Aksi yang berlangsung sehari setelah peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu berisi sorotan tajam mahasiswa terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto.

Seusai aksi yang diwarnai orasi keras, akun resmi Sekretariat Kabinet mengunggah video suasana meriah perayaan kemerdekaan dengan narasi “Ironi Demo ‘Prabowo Bedebah’ — 500 Ribu Warga Menyapa Pak Presiden”. Langkah ini menimbulkan perdebatan di kalangan warganet. Banyak pihak mempertanyakan relevansi jumlah 500 ribu peserta dalam perayaan kemerdekaan untuk menanggapi kritik mahasiswa yang bersifat substantif.

Masyarakat menilai, keramaian dalam acara kenegaraan tidak dapat serta-merta diartikan sebagai dukungan politik terhadap pemerintah. Keikutsertaan publik dalam perayaan nasional memiliki latar belakang yang beragam, dari mengikuti upacara hingga menikmati hiburan yang diselenggarakan pemerintah. Karena itu, penggunaan angka partisipasi dalam acara perayaan dirasa kurang tepat untuk mengonfirmasi kepuasan terhadap kebijakan negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Polemik meluas pada aspek etika komunikasi institusi pemerintah. Pada kanal resmi, Sekretariat Kabinet dinilai memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi dan kebijakan negara lewat narasi yang bijak dan mencerminkan semangat demokrasi. Beberapa pengamat komunikasi menilai bahwa penggunaan diksi dan konteks pada unggahan tersebut dapat menimbulkan persepsi pemerintah sedang memosisikan kritik publik sebagai lawan, bukan bagian penting dari proses demokrasi.

Situasi ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam komunikasi publik yang dilakukan institusi negara. Penyampaian narasi dari kanal resmi dinilai perlu tetap menjaga ruang kritik dan partisipasi publik dalam upaya membangun kepercayaan serta menjaga dinamika demokrasi yang sehat. (*)

Berita Terkait

Polri Ungkap Pembakaran Hutan di Kalimantan dan Sumatera Disengaja untuk Lahan Sawit
Polda Metro Jaya Klarifikasi, Penundaan Transaksi Bukan Pemblokiran Rekening Koordinator AMPB
Pemblokiran Rekening Aktivis Dinilai Langgar Hukum dan Hambat Kebebasan Berpendapat
Wakil Gubernur Kalbar Ingatkan Pemerintah Pusat: Keadilan Sosial Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan
Polri Tegas, Pembakaran Hutan dan Lahan Modus Sengaja, Para Pelaku Dihukum Berat
Polemik Keaslian Ijazah Jokowi Kembali Bergulir di Tengah Proses Hukum
Pemblokiran Rekening Aktivis Berujung Gelombang Boikot dan Penarikan Dana Nasabah Bank Mandiri
Hakim Nyatakan Gugatan Praperadilan Dokter Tifa Gugur Demi Hukum

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:26 WIB

Polri Ungkap Pembakaran Hutan di Kalimantan dan Sumatera Disengaja untuk Lahan Sawit

Senin, 24 Agustus 2026 - 05:17 WIB

Polda Metro Jaya Klarifikasi, Penundaan Transaksi Bukan Pemblokiran Rekening Koordinator AMPB

Senin, 24 Agustus 2026 - 04:12 WIB

Pemblokiran Rekening Aktivis Dinilai Langgar Hukum dan Hambat Kebebasan Berpendapat

Senin, 24 Agustus 2026 - 04:06 WIB

Wakil Gubernur Kalbar Ingatkan Pemerintah Pusat: Keadilan Sosial Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan

Senin, 24 Agustus 2026 - 03:19 WIB

Polemik Keaslian Ijazah Jokowi Kembali Bergulir di Tengah Proses Hukum

Senin, 24 Agustus 2026 - 03:12 WIB

Pemblokiran Rekening Aktivis Berujung Gelombang Boikot dan Penarikan Dana Nasabah Bank Mandiri

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 23:52 WIB

Hakim Nyatakan Gugatan Praperadilan Dokter Tifa Gugur Demi Hukum

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:59 WIB

Saksi Ahli Tegaskan Barang Sitaan Harus Sesuai Prosedur Hukum Agar Sah di Persidangan

Berita Terbaru

Daerah

JAMAK: COPOT KAJARI ROHIL

Senin, 24 Agu 2026 - 15:39 WIB