Kasus Keracunan di SMAN 2 Lamongan, DPRD Desak Pengelolaan Makanan Bergizi Gratis Lebih Ketat

baraNews

Jumat, 19 September 2025 - 21:25 WIB

50446 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lamongan | Kasus keracunan makanan yang dialami sejumlah siswa di SMA Negeri 2 Lamongan memicu perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk kalangan legislatif daerah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi pelajar justru menimbulkan dampak kesehatan yang merugikan.

Wakil Ketua II DPRD Lamongan, Husen, menyesalkan insiden tersebut dan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan MBG di sekolah-sekolah. Ia menilai pentingnya standar ketat dalam distribusi makanan, mulai dari proses persiapan hingga penyajiannya kepada siswa.

Menurutnya, persoalan pangan di lingkungan pendidikan tidak bisa diperlakukan sebagai hal teknis semata. Keselamatan penerima manfaat, dalam hal ini para siswa, harus menjadi prioritas utama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Masalah makanan itu bukan hal sepele. Jika lalai, dampaknya bisa sangat berbahaya, apalagi karena ini program bantuan yang seharusnya memprioritaskan keselamatan anak-anak,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (19/9/2025).

Ia juga mengingatkan para penyedia makanan yang bekerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk tidak abai terhadap prosedur keamanan pangan. Perlu ada profesionalisme yang tinggi dari tim dapur, terutama karena skala produksi yang melibatkan ribuan porsi makanan setiap hari.

Husen, yang juga menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan Lamongan, mengusulkan pelibatan petugas Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dalam proses pemeriksaan kualitas makanan sebelum disalurkan. Menurutnya, langkah itu dapat menjadi bentuk antisipasi dini terhadap kemungkinan makanan yang tidak layak konsumsi.

“Bisa melibatkan petugas UKS yang terlatih untuk memeriksa kualitas makanan. Dengan begitu, makanan yang sampai ke siswa benar-benar aman dan bergizi,” imbuhnya.

Selain kasus keracunan di SMAN 2 Lamongan, sejumlah laporan serupa juga muncul dari sekolah-sekolah lain. Terdapat temuan makanan basi dan berjamur yang didistribusikan dalam program MBG. Kondisi ini menunjukkan perlunya pengawasan harian dari pemerintah daerah terhadap jalannya program.

Husen mendorong dibentuknya tim khusus pengawasan di tingkat kabupaten yang bertugas merespons cepat setiap laporan dari sekolah. Menurutnya, ketegasan perlu diambil terhadap penyedia makanan yang tidak mematuhi standar kebersihan dan gizi.

“Kalau pengelola dapur terus menyepelekan masalah ini, Pemda harus mencabut izin mereka dan mencari pengganti yang lebih kompeten,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan MBG adalah ketidaksesuaian kapasitas penyedia makanan dengan skala permintaan. Ia mencontohkan banyaknya penjamah makanan yang terbiasa memasak dalam jumlah terbatas sehingga kesulitan saat harus menyiapkan ribuan porsi dalam waktu singkat.

“Memasak untuk 1.000 hingga 3.000 porsi jelas berbeda dengan memasak untuk 4 hingga 10 orang. Kami sarankan agar pendistribusian makanan dilakukan bertahap, mulai dari dua sekolah per hari,” jelas Dadan.

Ia menambahkan bahwa meskipun terjadi insiden di lapangan, pemerintah tetap menargetkan pelaksanaan program MBG dengan prinsip ‘zero incident’. Keselamatan dan kesehatan siswa harus tetap menjadi fondasi utama pelaksanaan program.

“Tujuan utama dari MBG adalah untuk memastikan anak-anak mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi tanpa membahayakan kesehatan mereka. Kami ingin anak-anak tumbuh cerdas dan kuat, dan itu dimulai dari asupan makanan yang baik,” ujarnya.

Kasus di Lamongan menjadi pengingat bahwa program skala nasional seperti MBG membutuhkan sistem yang solid, baik dari aspek perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan harian. Pemerintah daerah diminta segera memperkuat koordinasi antarinstansi dan memastikan seluruh proses distribusi makanan berjalan sesuai protokol yang telah ditetapkan.

Berita Terkait

Razia Gabungan dan Tes Urine Bersama Penegak Hukum Dalam Rangka Memperingati Hari Bakti Pemasyarakatan Ke-62
Halal Bihalal LMB Nusantara : Satukan Laskar Melayu Se-Riau, Bukti Melayu Bangkit Menjaga Marwah
Gotong Royong Bersama Anak Negeri, Satgas Yonif 521/DY Bersihkan Jalan Kampung di Distrik Bolakme
AF Tewas di Konser Dangdut Bendar, Mukit : Polisi Harus Tangkap Pelaku Sekarang
Terima Kasih Pak Kapolda Riau, Irjen Pol. Dr. Herry Heryawan, S.I.K., M.H., M.Hum. Telah Diangun Nya Jembatan Merah Putih Di Kulim, Bentuk Wujud Nyata Dukungan Polri Terhadap Masyarakat.
Terimakasih Polsek Kulim Atas Respon Cepat Menindak Lanjuti Laporan Masyarakat Melalaui Layananan Darurat 110
Ikhtiar Langka Kesembuhan Menuju Kesejahtraan Satgas PAMTAS RI-PNG Mobile Yonif 725/Woroagi
Reaksi Spontan Masyarakat Atas Aksi Unjuk Rasa ( GAM ) Gerakan Aktivis Mahasiswa

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 11:29 WIB

Kisruh Pemilihan BPD Topanda, Panitia Dituding Bermain di Balik Aturan

Jumat, 17 April 2026 - 10:59 WIB

Bripda M.Ahriadi Personel Satlantas Polres Bulukumba Ikuti MTQ Tingkat Provinsi Sulsel.

Jumat, 17 April 2026 - 10:44 WIB

Sembilan Warga Sipil Puncak Dilaporkan Tewas dalam Operasi Militer; Tokoh Muda Papua Kecam Tindakan di Wilayah Sipil

Jumat, 17 April 2026 - 07:11 WIB

Korps Raport Kenaikan Pangkat Personel Kodim 1411/Blk Berlangsung Khidmat, Tujuh Prajurit Naik Pangkat

Jumat, 17 April 2026 - 03:11 WIB

Pererat Sinergitas, Babinsa Paccarammengang Duduk Bareng Perangkat Desa Bahas Keamanan Wilayah 

Kamis, 16 April 2026 - 23:58 WIB

Babinsa dan Pemerintah Desa Bulo-Bulo Gelar Kerja Bakti Bersihkan Jalan dan Drainase di Bulukumba

Kamis, 16 April 2026 - 23:28 WIB

Demi Pulihkan Akses Roda Empat, Warga Garuntungan Perlebar Jembatan Darurat

Kamis, 16 April 2026 - 23:18 WIB

Ketua SPMB SMKN 2 Bulukumba Pirmansyah,S.Pd, Laksanakan Sosialisasi PPDB di Sejumlah SMP Kecamatan Kindang

Berita Terbaru