
Jakarta, 10 Oktober 2026 — Konflik dalam organisasi tidak selalu menjadi ancaman bagi stabilitas perusahaan. Jika dikelola dengan tepat, konflik justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat kepemimpinan, menyelaraskan visi, dan mendorong pertumbuhan organisasi.
Perspektif inilah yang diangkat Bondan Pandit Ardi dalam buku perdananya, 5 Disiplin Navigasi Konflik: Panduan Strategis-Praktis Menjaga Arah Organisasi, yang diluncurkan di Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Buku ini mengangkat berbagai dinamika konflik yang kerap dihadapi organisasi, mulai dari perbedaan kepentingan antarfungsi, hubungan antara kantor pusat dan cabang, dinamika antara pendiri dan pemilik, pertentangan prioritas jangka pendek dan jangka panjang, hingga perbedaan antar generasi dan gaya kerja.
Situasi lain seperti stagnasi, kelelahan organisasi, serta perbedaan visi dalam proses perubahan dan transformasi juga menjadi bagian dari tantangan yang perlu dinavigasi oleh para pemimpin.
Rangkaian acara dipandu oleh Fahmi Taufiqurrahman dan Mia Marianne sebagai pembawa acara.
Sebelum peluncuran buku, Bondan memaparkan latar belakang penulisan serta pengalaman yang menginspirasinya, termasuk perjalanan profesionalnya selama lebih dari 27 tahun di berbagai perusahaan, dari level trainee hingga direksi.
Suasana acara semakin interaktif ketika Bondan mengajak lima peserta mengikuti sesi role-play atau simulasi. Kegiatan ini menjadi pengantar untuk membahas paradigma kepemimpinan dalam menghadapi konflik. Melalui simulasi tersebut, peserta diajak melihat bagaimana perbedaan sudut pandang, kepentingan, dan pendekatan dapat memengaruhi cara seseorang merespons konflik di lingkungan organisasi.
Melalui buku 5 Disiplin Navigasi Konflik, Bondan Pandit Ardi mengajak pembaca melihat konflik bukan sebagai hal yang harus dihindari, melainkan sebagai keniscayaan dan dinamika yang perlu dipahami dan dikelola agar organisasi tetap bergerak menuju tujuan bersama.
Puncak kegiatan ditandai dengan peluncuran buku dan sesi foto bersama Bondan Pandit Ardi serta dua sosok atasan Bondan yang memiliki arti penting dalam perkembangan kariernya, yaitu Ibu Isabella Tanoto, pada saat itu sebagai Marketing Manager Ice Cream Division PT. Unilever Indonesia dan Bapak Ronny Imbar sebagai Presdir Sasa. Kehadiran keduanya menjadi bagian bermakna dari perjalanan Penulis dalam merangkai pengalaman profesional menjadi pembelajaran yang dapat dibagikan kepada khalayak yang lebih luas.
Setelah rangkaian utama acara, kegiatan dilanjutkan dengan library tour, yang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mengenal lebih dekat fasilitas dan lingkungan Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang sebagai ruang literasi, pembelajaran, dan pertukaran gagasan.

































