Jebakan Di balik Perempuan Penggerak Ekonomi

baraNews

Selasa, 29 Juli 2025 - 08:46 WIB

50237 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ermalianti, M.Pd (Akademisi)

Dewan Pengurus Daerah Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (DPD IWAPI) Provinsi Kalimantan Selatan menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) III di Kota Banjarbaru, Selasa 22 Juli 2025. Acara ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin, yang diwakili oleh Plt Asisten Pemerintahan dan Kesra Setdaprov Kalsel, Muhamad Muslim. Dalam sambutannya, Muhamad Muslim menegaskan peran strategis pengusaha wanita dalam pembangunan ekonomi daerah. (https://diskominfomc.kalselprov.go.id)

Tidak hanya Kalimantan Selatan di atas, hampir semua wilayah kini mendorong keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi, salah satunya sebagai pelaku UMKM. Dari pemerintah pusat hingga daerah sering menggulirkan program pelatihan wirausaha, pemberdayaan UMKM, dan bantuan modal untuk mendorong perempuan agar menjadi penggerak ekonomi bagi rumah tangga bahkan daerah. Namun, betulkah perempuan penggerak ekonomi ini sebuah keberuntungan keluarga bahkan daerah atau malah jebakan yang akhirnya berdampak bagi perempuan?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di balik Perempuan Penggerak Ekonomi

Perempuan pada dasarnya di rumah sebagai isteri dan ibu. Sedangkan suami bekerja. Jika perempuan turut menjadi penggerak ekonomi berati memikul beban ganda, yaitu sebagai pencari nafkah dan pengurus rumah tangga yang menyebabkan kelelahan fisik dan psikis. Tidak bisa dipungkiri memang kehidupan saat ini memaksa perempuan ikut terlibat dalam sektor ekonomi. Apalagi perempuan sebenarnya juga punya kemampuan dan keahlian tentu ini peluang emas bagi peningkatan perekonomian.

Sebagaimana Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa perempuan punya keunggulan yaitu lebih sensitif, punya kepekaan, dan lebih memiliki empati. Menurutnya, hal tersebut tidak identik dengan kelemahan tetapi justru merupakan sumber kekuatan. (https://www.kemenkeu.go.id)

Konstribusi perempuan dalam pembangunan kerap dianggap tak sebanding dengan kaum laki-laki. Padahal dari sisi ekonomi, 60 persen dari sekitar 51,21 juta Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia dikelola atau dimiliki oleh perempuan. Selain menyerap sekitar 91,8 juta atau 93 persen dari total tenaga kerja, pekerja perempuan di sektor informal juga menyumbang 55 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). (https://kemenpppa.go.id)

Tambahan data lain berdasarkan data Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), jumlah pelaku UMKM di Indonesia hingga Mei 2025 mencapai 57 juta unit usaha, termasuk jenis usaha Ultra Mikro (UMi). Dari total tersebut, 64,5% atau sekitar 37 juta unit usaha dikelola oleh Perempuan. (https://industri.kontan.co.id)

Gagasan menjadikan perempuan sebagai motor penggerak ekonomi dalam paradigama saat ini ketika standar perbuatan adalah manfaat dan kapitalis maka hal tersebut dianggap solusi yang tepat bahkan menjadi pola pikir pemerintah dan perempuan saat ini. Padahal paradigma ini karena lemahnya sistem ekonomi yang tidak mampu menyejahterakan rakyat.

Negara gagal menciptakan sistem jaminan sosial yang adil sehingga perempuan didorong untuk ikut menopang ekonomi rumah tangga. Pandangan bahwa perempuan harus ikut produktif secara ekonomi muncul dari paradigma barat sekuler yang mengukur nilai perempuan dari kontribusinya secara material. Oleh karena itu di balik perempuan penggerak ekonomi bukan keberuntungan melainkan jebakan sistem kapitalisme sekuler dalam mengeksploitasi sumber daya manusia.

Perempuan dalam Islam

Berbeda dengan Islam memandang perempuan. Negara bertanggung jawab menjamin kebutuhan dasar rakyat yaitu sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Islam tidak melarang perempuan bekerja, tapi membatasi pada ruang yang tidak menyalahi fitrah dan syariat.

Islam tidak mengenal persaingan peran antara laki-laki dan perempuan, melainkan pembagian peran. Perempuan tidak harus menjadi pesaing laki-laki di ranah publik demi dianggap “berdaya”. Menjadikan perempuan sebagai motor penggerak ekonomi daerah adalah solusi semu dari sistem kapitalisme yang gagal menyejahterakan rakyat.

Dalam Islam, perempuan dimuliakan bukan karena produktivitas ekonominya, tetapi karena perannya yang sesuai fitrah. Konsep ekonomi dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari sistem politiknya.

Demikianlah ketika penguasa hadir untuk mengurusi urusan rakyat, termasuk bertanggung jawab terhadap kesejahteraan. Maka sistem politik dan sistem keuangan yang diberlakukan juga harus berasal dari Islam. Semua ini hanya bisa terealisasi apabila negara menjadikan akidah Islam sebagai landasan pemikirannya dan syariat Islam sebagai asas kehidupan. Wallahu’ alam.

Berita Terkait

Inilah 5 Suku Terbesar di Setiap Pulau di Indonesia versi BPS dan IPUMS
Pemilihan Ketua RT (Pilkate) Serentak di Kota Jambi: Wajah Demokrasi Akar Rumput yang Hidup
Ketenagakerjaan Masa Depan Dimulai di Lembang: FMIB Satukan Gagasan, Komitmen, dan Kolaborasi
Refleksi dan Komitmen Baru: IWO-I KBB Teguhkan Peran Pers dalam Mendukung Program Asta Cita
bank bjb dan BPSDM Provinsi Jawa Barat Perkuat Sinergi untuk Tingkatkan Sumber Daya Manusia
HEBOH HANTU DWI FUNGSI ABRI
Al-Quran Pedoman Hidup, Bukan Hidangan Prasmanan

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 04:44 WIB

Cegah Narkoba dan Pergaulan Bebas, Babinsa Tamaona Gelar Komsos Bersama Tokoh Masyarakat

Minggu, 21 Juni 2026 - 03:19 WIB

Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Kapolres Bulukumba Gelar Anjangsana ke Rumah Purnawirawan Polri

Sabtu, 20 Juni 2026 - 18:44 WIB

Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias Menguat, Forum Juang Ono Niha Dorong Percepatan Pembangunan Daerah

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:50 WIB

POROS PEMUDA PEDULI INDONESIA GELAR AKSI DI SILANG SELATAN MONAS: HENTIKAN PEMBOROSAN ANGGARAN NEGARA, TOLAK MILITERISME DI RANAH SIPIL, DAN WUJUDKAN TRANSPARANSI PENGADAAN ALUTSISTA

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:51 WIB

Polres Bulukumba Berikan Bantuan Sumur Bor untuk Masjid Al-Amin Kajang Jelang Hari Bhayangkara ke-80

Jumat, 19 Juni 2026 - 03:07 WIB

Damaikan Warga, Babinsa Gantarang Sukses Mediasi Sengketa Penjualan Tanah

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:59 WIB

Haru dan Meriah, TK Kartika XX-35 Bulukumba Gelar Pelepasan Siswa dan Pentas Seni Tahun Ajaran 2026

Kamis, 18 Juni 2026 - 19:09 WIB

“GMKI JAKARTA, INDONESIA SEKARAT: DEMOKRASI TERGERUS, KEADILAN TUMPUL, KEPERCAYAAN PUBLIK RUNTUH”

Berita Terbaru