Jakarta, 12 Juni 2026 – Seruan “Reformasi Jilid II” menggema di depan Sekretariat Cabang GMKI Jakarta, Salemba 49, Jumat (12/6) malam. Aksi mimbar bebas yang digelar oleh Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Jakarta Masa Bakti 2025–2027 menjadi bentuk protes terhadap berbagai persoalan nasional yang dinilai semakin membebani rakyat.
Dalam orasinya, massa menyoroti kenaikan harga BBM, pelemahan IHSG, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum berjalan efektif, serta praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang dianggap semakin mengakar. Massa juga mengkritik fokus pemerintah terhadap sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menurut mereka gagal menjawab kebutuhan masyarakat dan justru memperparah penderitaan rakyat.
Aksi tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Cabang GMKI Jakarta, Andrew Matthew Sianturi, Kepala Bidang Aksi dan Pelayanan Pian Alfredo Manurung, serta jajaran BPC dan kader GMKI Jakarta lainnya.
Situasi memanas ketika massa aksi berhadapan dengan aparat kepolisian dan unsur TNI yang melakukan pengamanan di lokasi. Ketegangan yang terjadi berujung pada bentrokan sehingga menyebabkan sejumlah kader GMKI mengalami luka-luka.
Di tengah meningkatnya eskalasi aksi, massa sempat membakar ban dan menutup akses jalan sebagai bentuk simbolik perlawanan terhadap kebijakan yang mereka nilai tidak berpihak kepada rakyat. Ketegangan juga sempat terjadi antara peserta aksi dengan sejumlah warga di sekitar lokasi.
Meski diwarnai berbagai insiden, massa tetap bertahan menyampaikan tuntutannya hingga aksi berakhir sekitar pukul 22.00 WIB.
Ketua Cabang GMKI Jakarta dalam keterangannya menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh kehilangan keberpihakannya kepada rakyat.
“Mahasiswa harus tetap menjadi suara kritis di tengah berbagai persoalan bangsa. Ketika rakyat menjerit akibat tekanan ekonomi, korupsi merajalela, dan kebijakan tidak menjawab kebutuhan masyarakat, maka diam bukanlah pilihan,” tegasnya.
GMKI Jakarta menegaskan bahwa aksi ini merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk terus mengawal jalannya demokrasi, mengkritisi kebijakan publik yang dinilai bermasalah, serta memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan semangat perjuangan yang terus menyala, massa menutup aksi dengan pekikan:
“Hari-hari esok adalah milik kita!”
Tinggi Iman
Tinggi Ilmu
Tinggi Pengabdian
Ut Omnes Unum Sint
































