Jakarta, 2 April — Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Jakarta menyelenggarakan diskusi interaktif bertajuk “Dinamika Konflik di Kawasan Teluk Selat Hormuz dan Implikasinya terhadap Indonesia” pada Kamis (2/4) di Sekretariat Cabang GMKI Jakarta.
Diskusi ini mengangkat isu strategis global terkait ketegangan di kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Kawasan ini menjadi titik krusial distribusi minyak global, sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi internasional, termasuk Indonesia. Konflik di kawasan tersebut dinilai memiliki dampak langsung maupun tidak langsung terhadap stabilitas ekonomi dan geopolitik nasional.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk akademisi dan pengurus organisasi, yang memberikan perspektif terkait dinamika konflik, kepentingan negara-negara besar, serta posisi strategis Indonesia dalam merespons situasi global tersebut.
Dalam pemaparannya, Berkat Sama Hulu, Wakil Sekretaris GMKI Cabang Jakarta menekankan bahwa ketegangan di kawasan Teluk tidak hanya berdampak pada harga minyak dunia, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok energi dan stabilitas ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat posisi Indonesia cukup rentan terhadap gejolak eksternal. Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan langkah strategis yang konkret dan berkelanjutan.
“Indonesia harus mulai memperkuat ketahanan energinya melalui diversifikasi sumber energi dan percepatan transisi menuju energi terbarukan. Selain itu, pemerintah perlu menyiapkan kebijakan mitigasi yang adaptif agar tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi global yang tidak menentu,” ujarnya.
Sementara itu, Bima Satya Ginting, Sekretaris Fungsi Hubungan Internasional PP GMKI menyoroti pentingnya peran Indonesia dalam konteks hubungan internasional. Ia menyampaikan bahwa konflik di kawasan Teluk tidak bisa dilihat semata sebagai konflik regional, melainkan bagian dari tarik-menarik kepentingan global yang melibatkan kekuatan besar dunia.

“Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara non-blok yang menganut prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Dalam konteks ini, Indonesia tidak hanya menjadi pengamat, tetapi harus mampu mengambil peran sebagai penyeimbang melalui jalur diplomasi yang konstruktif,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa Indonesia perlu memperkuat diplomasi multilateral dan membangun kerja sama internasional yang lebih solid guna menjaga stabilitas kawasan. “Pendekatan dialog, kerja sama regional, serta penguatan peran di forum internasional seperti PBB menjadi penting agar Indonesia dapat berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas global,” tambahnya.
Di sisi lain, Renny Rossa, Regional Women’s Commitee WSCF, menekankan pentingnya perspektif sosial dan peran generasi muda dalam merespons isu global. Ia menilai bahwa konflik internasional tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi dan politik, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang luas, termasuk pada kelompok rentan.
“Kita tidak boleh melihat konflik global hanya dari sudut pandang negara atau elite politik semata, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat, terutama kelompok perempuan dan anak yang sering menjadi pihak paling terdampak,” ungkapnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih aktif dalam memahami isu global secara kritis dan holistik.
“Mahasiswa dan pemuda harus menjadi agen perubahan yang tidak hanya peka terhadap isu nasional, tetapi juga memiliki kesadaran global. Dengan pemahaman yang baik, generasi muda dapat berkontribusi dalam mendorong kebijakan yang lebih inklusif, adil, dan berorientasi pada perdamaian,” tambahnya.
Selain itu, diskusi juga menyoroti pentingnya diplomasi luar negeri Indonesia yang aktif dan bebas dalam menjaga stabilitas kawasan serta memperkuat ketahanan nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Para peserta diskusi yang terdiri dari mahasiswa dan pemuda diajak untuk lebih kritis dalam memahami isu-isu internasional, serta mampu melihat keterkaitannya dengan kondisi nasional. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan dan pandangan yang berkembang selama sesi diskusi berlangsung.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan dialog bagi generasi muda untuk memperluas wawasan geopolitik sekaligus mendorong partisipasi aktif dalam merespons tantangan global.
GMKI Jakarta berharap melalui diskusi ini, lahir gagasan-gagasan konstruktif yang dapat berkontribusi bagi kebijakan publik serta memperkuat peran Indonesia di kancah internasional.
































