TANGERANG SELATAN | Kediaman milik Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Nafa Urbach, yang terletak di Kebayoran Essence E-07, Bintaro Sektor 7, Pondok Aren, Tangerang Selatan, menjadi sasaran penyerbuan dan penjarahan oleh sekelompok massa pada Minggu (31/8/2025) dini hari. Insiden ini terjadi di tengah gelombang unjuk rasa yang meluas dan sebelumnya berujung ricuh di kawasan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta.
Peristiwa tersebut menambah daftar rumah pejabat negara yang menjadi target amukan massa, setelah sebelumnya kediaman Menteri Keuangan Sri Mulyani juga diserbu dan dijarah.
Berdasarkan keterangan warga sekitar, massa mulai bergerak menuju kompleks perumahan eksklusif tersebut sekitar pukul 01.30 WIB. Mereka datang dalam kelompok kecil yang kemudian membesar, lalu memaksa masuk ke dalam rumah Nafa Urbach, yang diketahui saat itu dalam keadaan kosong.
“Awalnya hanya beberapa orang yang datang, tidak lama kemudian jumlahnya bertambah banyak. Mereka seperti sudah tahu persis rumah siapa yang dituju,” ujar seorang warga yang tinggal tak jauh dari lokasi. Ia meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Setibanya di lokasi, rumah terlihat sepi. Di bagian depan halaman rumah, sejumlah barang tampak berserakan. Sebuah papan bertuliskan “RUMAH INI SUDAH DIJARAH” dipasang dekat pagar, menandakan kekacauan yang baru saja terjadi beberapa jam sebelumnya. Jendela rumah tampak pecah, dan pintu depan dalam keadaan terbuka sebagian.
Saat memasuki area teras, tampak sejumlah dokumen bertebaran di lantai. Di antaranya terdapat surat resmi DPR RI dengan judul Permohonan Penjadwalan dalam Rapat Paripurna. Sumber yang mengetahui isi rumah menyebutkan bahwa sejumlah perhiasan, alat elektronik, dan dokumen penting diduga telah hilang dijarah massa. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak keluarga Nafa Urbach maupun dari kepolisian terkait estimasi kerugian.
Penjagaan di sekitar lokasi pun terpantau minim. Hanya beberapa aparat kepolisian terlihat berjaga di gerbang utama kompleks Kebayoran Essence, yang berjarak cukup jauh dari rumah. Situasi ini membuat sebagian warga mempertanyakan efektivitas pengamanan terhadap rumah-rumah pejabat negara, terlebih di tengah meningkatnya situasi politik dan sosial yang tidak menentu.
“Letaknya memang agak ke dalam. Kalau tidak tahu betul, tidak mudah menemukan rumah itu. Tapi massa sepertinya sudah punya informasi lengkap,” kata seorang petugas keamanan perumahan yang enggan disebutkan namanya.
Insiden ini terjadi dalam konteks meningkatnya ketegangan politik nasional akibat penolakan sejumlah kebijakan yang sedang dibahas di DPR. Aksi unjuk rasa yang sebelumnya berlangsung di kawasan Gedung DPR/MPR RI berujung ricuh. Tiga orang dilaporkan mengalami luka serius dan dilarikan ke RSAL Mintoharjo, sementara delapan lainnya mendapat perawatan medis di lokasi. Dampak dari demonstrasi juga dirasakan di jalan tol, ketika Jasa Marga mengalihkan arus lalu lintas di Tol Dalam Kota untuk menghindari kerumunan massa.
Sementara itu, Kepolisian Resor Tangerang Selatan saat ini tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kepala Polres Tangsel menyatakan bahwa pihaknya telah mengamankan sejumlah rekaman CCTV dari rumah-rumah warga sekitar untuk mengidentifikasi pelaku.
“Kami sedang mendalami motif dan identitas para pelaku. Ada dugaan kuat bahwa aksi ini dilakukan secara terorganisir,” ujarnya.
Dari pihak DPR, belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan terkait insiden penyerbuan ini. Namun sejumlah anggota DPR dari Fraksi Partai NasDem menyatakan keprihatinan atas peristiwa yang menimpa rekan satu partai mereka. Mereka juga meminta agar aparat memperkuat pengamanan terhadap anggota DPR dan keluarganya di tengah situasi yang kian memanas.
Penyelidikan atas kasus ini masih terus berlangsung, dan situasi di sekitar kompleks perumahan kini berada dalam pengawasan aparat keamanan. Warga berharap aparat bisa bertindak cepat, mengingat situasi sosial yang masih belum stabil dan potensi terulangnya insiden serupa di lokasi lain. (*)
































