Kasus Keracunan di SMAN 2 Lamongan, DPRD Desak Pengelolaan Makanan Bergizi Gratis Lebih Ketat

baraNews

Jumat, 19 September 2025 - 21:25 WIB

50494 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lamongan | Kasus keracunan makanan yang dialami sejumlah siswa di SMA Negeri 2 Lamongan memicu perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk kalangan legislatif daerah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi pelajar justru menimbulkan dampak kesehatan yang merugikan.

Wakil Ketua II DPRD Lamongan, Husen, menyesalkan insiden tersebut dan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan MBG di sekolah-sekolah. Ia menilai pentingnya standar ketat dalam distribusi makanan, mulai dari proses persiapan hingga penyajiannya kepada siswa.

Menurutnya, persoalan pangan di lingkungan pendidikan tidak bisa diperlakukan sebagai hal teknis semata. Keselamatan penerima manfaat, dalam hal ini para siswa, harus menjadi prioritas utama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Masalah makanan itu bukan hal sepele. Jika lalai, dampaknya bisa sangat berbahaya, apalagi karena ini program bantuan yang seharusnya memprioritaskan keselamatan anak-anak,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (19/9/2025).

Ia juga mengingatkan para penyedia makanan yang bekerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk tidak abai terhadap prosedur keamanan pangan. Perlu ada profesionalisme yang tinggi dari tim dapur, terutama karena skala produksi yang melibatkan ribuan porsi makanan setiap hari.

Husen, yang juga menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan Lamongan, mengusulkan pelibatan petugas Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dalam proses pemeriksaan kualitas makanan sebelum disalurkan. Menurutnya, langkah itu dapat menjadi bentuk antisipasi dini terhadap kemungkinan makanan yang tidak layak konsumsi.

“Bisa melibatkan petugas UKS yang terlatih untuk memeriksa kualitas makanan. Dengan begitu, makanan yang sampai ke siswa benar-benar aman dan bergizi,” imbuhnya.

Selain kasus keracunan di SMAN 2 Lamongan, sejumlah laporan serupa juga muncul dari sekolah-sekolah lain. Terdapat temuan makanan basi dan berjamur yang didistribusikan dalam program MBG. Kondisi ini menunjukkan perlunya pengawasan harian dari pemerintah daerah terhadap jalannya program.

Husen mendorong dibentuknya tim khusus pengawasan di tingkat kabupaten yang bertugas merespons cepat setiap laporan dari sekolah. Menurutnya, ketegasan perlu diambil terhadap penyedia makanan yang tidak mematuhi standar kebersihan dan gizi.

“Kalau pengelola dapur terus menyepelekan masalah ini, Pemda harus mencabut izin mereka dan mencari pengganti yang lebih kompeten,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan MBG adalah ketidaksesuaian kapasitas penyedia makanan dengan skala permintaan. Ia mencontohkan banyaknya penjamah makanan yang terbiasa memasak dalam jumlah terbatas sehingga kesulitan saat harus menyiapkan ribuan porsi dalam waktu singkat.

“Memasak untuk 1.000 hingga 3.000 porsi jelas berbeda dengan memasak untuk 4 hingga 10 orang. Kami sarankan agar pendistribusian makanan dilakukan bertahap, mulai dari dua sekolah per hari,” jelas Dadan.

Ia menambahkan bahwa meskipun terjadi insiden di lapangan, pemerintah tetap menargetkan pelaksanaan program MBG dengan prinsip ‘zero incident’. Keselamatan dan kesehatan siswa harus tetap menjadi fondasi utama pelaksanaan program.

“Tujuan utama dari MBG adalah untuk memastikan anak-anak mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi tanpa membahayakan kesehatan mereka. Kami ingin anak-anak tumbuh cerdas dan kuat, dan itu dimulai dari asupan makanan yang baik,” ujarnya.

Kasus di Lamongan menjadi pengingat bahwa program skala nasional seperti MBG membutuhkan sistem yang solid, baik dari aspek perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan harian. Pemerintah daerah diminta segera memperkuat koordinasi antarinstansi dan memastikan seluruh proses distribusi makanan berjalan sesuai protokol yang telah ditetapkan.

Berita Terkait

Berlangsung Kondusif, Polres Bulukumba Sukses Kawal Unras Masyarakat dari 3 Kecamatan.
Berlangsung Kondusif, Polres Bulukumba Sukses Kawal Unras Masyarakat dari 3 Kecamatan.
Antrean Panjang Kerap Terjadi, SPBU Bacari Siap Bantu Kendaraan Emergency
Kodim 1411/BLK Gelar Kegiatan Pemberdayaan Komponen Masyarakat melalui Penguatan Karakter Kebangsaan
Akselerasi Pembangunan Jembatan Gantung Perintis Garuda, Koramil Kajang dan Warga 3 Desa Ukur Serta Gali Cor Slink Angin
Sinergi TNI-Rakyat, Koramil Herlang Gotong Royong Ratakan Timbunan Jalan Jembatan Beton Garuda
Percepat Akses Dua Desa, TNI dan Warga Herlang Kompak Plester Talud Jembatan Beton Garuda
Hubungkan Tiga Desa, TNI dan Warga Kajang Gotong Royong Bangun Jembatan Gantung Perintis Garuda

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 23:49 WIB

Berlangsung Kondusif, Polres Bulukumba Sukses Kawal Unras Masyarakat dari 3 Kecamatan.

Rabu, 9 September 2026 - 23:44 WIB

Berlangsung Kondusif, Polres Bulukumba Sukses Kawal Unras Masyarakat dari 3 Kecamatan.

Rabu, 9 September 2026 - 15:35 WIB

Antrean Panjang Kerap Terjadi, SPBU Bacari Siap Bantu Kendaraan Emergency

Rabu, 9 September 2026 - 06:48 WIB

Kodim 1411/BLK Gelar Kegiatan Pemberdayaan Komponen Masyarakat melalui Penguatan Karakter Kebangsaan

Selasa, 8 September 2026 - 03:40 WIB

Akselerasi Pembangunan Jembatan Gantung Perintis Garuda, Koramil Kajang dan Warga 3 Desa Ukur Serta Gali Cor Slink Angin

Senin, 7 September 2026 - 03:17 WIB

Percepat Akses Dua Desa, TNI dan Warga Herlang Kompak Plester Talud Jembatan Beton Garuda

Senin, 7 September 2026 - 03:10 WIB

Hubungkan Tiga Desa, TNI dan Warga Kajang Gotong Royong Bangun Jembatan Gantung Perintis Garuda

Rabu, 2 September 2026 - 01:10 WIB

Kasdim 1411/Bulukumba Pimpin Kegiatan Peningkatan Kemampuan Apkowil TA 2026

Berita Terbaru