Jakarta — Kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) era Menteri Nadiem Makarim kini memasuki babak baru. Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung memperluas penyelidikan hingga ke daerah-daerah di seluruh Indonesia, seiring distribusi perangkat itu yang menyasar sekolah-sekolah dari kota besar hingga pelosok.
Proyek bernilai triliunan rupiah ini sejak awal dicurigai sarat praktik manipulasi dan kolusi. Empat orang sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun Jampidsus menilai lingkaran masalahnya jauh lebih luas. Dugaan keterlibatan pihak Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten/kota, hingga rekanan penyedia barang, mulai dibidik.
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna, mengatakan pihaknya telah mengoordinasikan langkah ini dengan satuan kerja kejaksaan di daerah. Kejaksaan Tinggi (Kejati) dan Kejaksaan Negeri (Kejari) diminta turun tangan melakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang menerima dan mendistribusikan Chromebook.
“Jampidsus tidak hanya melibatkan penyidik di Gedung Bundar, tetapi juga teman-teman penyidik di beberapa wilayah Kejari. Karena ini kan pengadaannya hampir seluruh Indonesia,” kata Anang kepada wartawan di Kejagung, Kamis (7/8/2025).
Menurutnya, alasan pelibatan penyidik daerah adalah keterbatasan personel di Direktorat Penyidikan Jampidsus. Dengan menyebar beban kerja ke Kejari, penyelidikan diharapkan lebih cepat dan merata.
Anang menegaskan bahwa objek penyidikan di pusat maupun di daerah tetap sama, yaitu menyangkut proses pengadaan, distribusi, dan kualitas laptop Chromebook. “Keterbatasan tenaga penyidik di Gedung Bundar diisi, dilengkapi dengan keterlibatan penyidik yang ada di kejaksaan wilayah,” ujarnya.
Perluasan investigasi ini memberi sinyal bahwa kasus Chromebook bisa menyeret lebih banyak pihak. Meski belum ada tambahan tersangka di luar empat nama yang sudah diumumkan, langkah Kejagung memetakan jalur distribusi di lapangan berpotensi membuka fakta baru soal bagaimana proyek ini dijalankan, siapa saja yang diuntungkan, dan berapa besar kerugian negara yang timbul.
Jika tren ini berlanjut, kasus Chromebook bisa menjadi salah satu skandal pengadaan terbesar di sektor pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, mengingat cakupan wilayahnya yang masif dan nilai anggarannya yang fantastis.































