Sangat Miris: Mahasiswa Kehilangan Independensi dan Rasa Ke manusiaan terhadap Permasalahan Rakyat

baraNews

Kamis, 8 Mei 2025 - 10:00 WIB

50439 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Sudah menjadi rahasia umum bahwa mahasiswa adalah salah satu elemen terpenting dalam sejarah pergerakan bangsa ini. Dari zaman kolonial hingga era reformasi, mahasiswa selalu memainkan peran sentral dalam menyalakan bara perubahan. Namun hari ini, gambaran ideal itu tampaknya perlahan memudar. Bukan karena tekanan kekuasaan semata, melainkan karena lunturnya semangat perjuangan dan matinya nurani sosial di kalangan mahasiswa itu sendiri.

Baru-baru ini, Gerakan Rakyat Menggugat (GRM) menggelar aksi di depan Gedung DPRA dengan membawa sejumlah tuntutan krusial: Evaluasi dana otonomi khusus (otsus) yang selama ini tidak transparan dan tidak berpihak pada rakyat, Evaluasi lembaga BPKS yang terindikasi tidak efektif dan sarat kepentingan elit, evaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tangse yang berpotensi merusak lingkungan dan mengabaikan partisipasi warga lokal, serta penolakan terhadap pembangunan empat batalyon militer di Aceh yang dikhawatirkan menghidupkan kembali trauma masa lalu.

Ironisnya, isu-isu tersebut yang semestinya menggugah kesadaran mahasiswa justru tak banyak direspons. Hanya segelintir yang turun ke jalan, sementara mayoritas memilih menjadi penonton pasif. Sebagian bahkan mengejek gerakan semacam ini sebagai “aktivisme murahan” atau “langkah usang yang tidak relevan”. Di sinilah kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri: runtuhnya independensi dan matinya rasa kemanusiaan di kalangan mahasiswa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagaimana mungkin mereka yang mengaku sebagai agent of change justru memilih diam saat keadilan dirampas dan hak rakyat diinjak? Bagaimana mungkin mahasiswa yang memiliki akses pengetahuan dan kebebasan berpikir, justru lebih sibuk mengejar sertifikat, IPK, dan pengaruh di media sosial ketimbang memperjuangkan hak hidup rakyat kecil?

Fenomena ini tidak lahir dalam ruang hampa. Budaya kampus kini lebih mirip pabrik pencetak tenaga kerja ketimbang ruang dialektika. Mahasiswa digiring untuk berpikir pragmatis, dituntut untuk ‘lulus cepat’, ‘kerja cepat’, dan ‘sukses cepat’ tanpa perlu memikirkan situasi sosial di luar pagar kampus. Aktivisme dianggap sebagai gangguan, bukan proses pembentukan karakter. Bahkan organisasi kemahasiswaan pun banyak yang telah dikooptasi oleh birokrasi kampus atau kekuasaan politik, membuat gerakannya tumpul dan kehilangan taji.

Kita harus mengakui kenyataan pahit ini: banyak mahasiswa hari ini lebih takut kehilangan privilege daripada kehilangan prinsip. Mereka lebih risau kehilangan jaringan dan relasi daripada kehilangan solidaritas. Dan lebih tragis lagi, mereka membungkus sikap apatisnya dengan narasi rasional: “itu bukan urusan saya,” atau “kita tidak bisa mengubah sistem.”

Lalu, kalau bukan mahasiswa, siapa lagi yang diharapkan menjadi benteng terakhir rakyat? Apakah kita rela menyerahkan masa depan bangsa ini pada generasi yang lebih sibuk mengejar likes di Instagram daripada memahami derita petani yang tanahnya digusur? Pada generasi yang mengutamakan karier pribadi tetapi buta terhadap jeritan rakyat yang terpinggirkan?

Sudah saatnya kita menggugat kembali bukan hanya sistem politik yang menindas, tapi juga generasi mahasiswa yang sudah kehilangan jati dirinya. Menjadi mahasiswa bukan sekadar soal belajar di kelas dan lulus tepat waktu. Lebih dari itu, menjadi mahasiswa adalah soal tanggung jawab moral dan keberpihakan kepada rakyat. Jika keberpihakan itu sudah hilang, maka mahasiswa bukan lagi kekuatan perubahan, melainkan bagian dari status quo.

Mahasiswa harus bangkit. Bukan sekadar hadir dalam aksi, tapi benar-benar memahami esensi perjuangan. Bukan sekadar ikut-ikutan, tapi menyelami akar masalah. Karena sekali mahasiswa berhenti berpikir dan merasa, maka tamatlah sudah harapan rakyat terhadap kekuatan moral bangsa ini

Berita Terkait

DPP SWI Audiensi dengan Dewan Pers, Bahas Regulasi Baru dan Penguatan Profesi Wartawan
Surat Gerakan Pemuda Kebangsaan Bongkar Dugaan Pelanggaran Berat Industri Getah Pinus di Gayo Lues
PT Rosin Tetap Beroperasi Meski Dibekukan, Publik Pertanyakan Wibawa Negara dan Ketegasan Penegakan Hukum di Aceh
Kecam Pernyataan Amien Rais Soal Teddy, Ketum GP Alwashliyah: Narasi Tidak Etis dan Memecah Belah!
UU Kebiri Kimia Bagi Predator Perempuan dan Anak, Ketum RPPAI Desak Polresta Pati Catat Sejarah Penegakan Hukum
Mahasiswa NTB Geruduk Kementerian ESDM, Desak Pemerintah Bongkar Stagnasi IPR
Dunia Industri Datang ke Sekolah: Siswa SMK Islam PB Soedirman 2 Jakarta Jadi Incaran BUMN
Ibu Muda Berjuang 12 Tahun Mencari Keadilan Atas Lelang Fiktif Bank Mega, Indikasi Diduga Pemalsuan Tanda Tangan Pada APHT

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 14:44 WIB

Sekda Bersama Ketua Koni Buka PORSIS Cup XIX, Tekankan Sportivitas dan Pembinaan Atlet

Jumat, 10 Juli 2026 - 05:25 WIB

Komitmen Ahmad Efendi Nasution: Pertama Mendaftar Jadi Calon Wali Nagari Muara Kiawai Hilir

Selasa, 7 Juli 2026 - 17:35 WIB

Ketua DPRD Pasaman Barat Hadiri Syukuran HUT Bhayangkara ke-80, Apresiasi Dedikasi Polri Layani Masyarakat

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:50 WIB

Bawa Nama Pasbar! Sekda Doddy San Ismail Lepas Kontingen O2SN ke Tingkat Provinsi

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:30 WIB

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tegaskan Penebangan Sejumlah Pohon di kawasan Hutan Kota program revitalisasi dan penataan kawasan,

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:34 WIB

Seorang Pemuda di Pasaman Barat Diringkus Polisi, Diduga Menyetubuhi Anak di Bawah Umur

Senin, 8 Juni 2026 - 16:12 WIB

Pemkab Pasbar Kebut Pelaksanaan Kegiatan Bersumber dari TKD 2026

Minggu, 7 Juni 2026 - 03:26 WIB

Bupati Yulianto Berama anggota Koni Tutup PSLG Cup I, Dorong Pembinaan Atlet Sepak Bola Pasaman Barat

Berita Terbaru