Sangat Miris: Mahasiswa Kehilangan Independensi dan Rasa Ke manusiaan terhadap Permasalahan Rakyat

baraNews

Kamis, 8 Mei 2025 - 10:00 WIB

50460 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Sudah menjadi rahasia umum bahwa mahasiswa adalah salah satu elemen terpenting dalam sejarah pergerakan bangsa ini. Dari zaman kolonial hingga era reformasi, mahasiswa selalu memainkan peran sentral dalam menyalakan bara perubahan. Namun hari ini, gambaran ideal itu tampaknya perlahan memudar. Bukan karena tekanan kekuasaan semata, melainkan karena lunturnya semangat perjuangan dan matinya nurani sosial di kalangan mahasiswa itu sendiri.

Baru-baru ini, Gerakan Rakyat Menggugat (GRM) menggelar aksi di depan Gedung DPRA dengan membawa sejumlah tuntutan krusial: Evaluasi dana otonomi khusus (otsus) yang selama ini tidak transparan dan tidak berpihak pada rakyat, Evaluasi lembaga BPKS yang terindikasi tidak efektif dan sarat kepentingan elit, evaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tangse yang berpotensi merusak lingkungan dan mengabaikan partisipasi warga lokal, serta penolakan terhadap pembangunan empat batalyon militer di Aceh yang dikhawatirkan menghidupkan kembali trauma masa lalu.

Ironisnya, isu-isu tersebut yang semestinya menggugah kesadaran mahasiswa justru tak banyak direspons. Hanya segelintir yang turun ke jalan, sementara mayoritas memilih menjadi penonton pasif. Sebagian bahkan mengejek gerakan semacam ini sebagai “aktivisme murahan” atau “langkah usang yang tidak relevan”. Di sinilah kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri: runtuhnya independensi dan matinya rasa kemanusiaan di kalangan mahasiswa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagaimana mungkin mereka yang mengaku sebagai agent of change justru memilih diam saat keadilan dirampas dan hak rakyat diinjak? Bagaimana mungkin mahasiswa yang memiliki akses pengetahuan dan kebebasan berpikir, justru lebih sibuk mengejar sertifikat, IPK, dan pengaruh di media sosial ketimbang memperjuangkan hak hidup rakyat kecil?

Fenomena ini tidak lahir dalam ruang hampa. Budaya kampus kini lebih mirip pabrik pencetak tenaga kerja ketimbang ruang dialektika. Mahasiswa digiring untuk berpikir pragmatis, dituntut untuk ‘lulus cepat’, ‘kerja cepat’, dan ‘sukses cepat’ tanpa perlu memikirkan situasi sosial di luar pagar kampus. Aktivisme dianggap sebagai gangguan, bukan proses pembentukan karakter. Bahkan organisasi kemahasiswaan pun banyak yang telah dikooptasi oleh birokrasi kampus atau kekuasaan politik, membuat gerakannya tumpul dan kehilangan taji.

Kita harus mengakui kenyataan pahit ini: banyak mahasiswa hari ini lebih takut kehilangan privilege daripada kehilangan prinsip. Mereka lebih risau kehilangan jaringan dan relasi daripada kehilangan solidaritas. Dan lebih tragis lagi, mereka membungkus sikap apatisnya dengan narasi rasional: “itu bukan urusan saya,” atau “kita tidak bisa mengubah sistem.”

Lalu, kalau bukan mahasiswa, siapa lagi yang diharapkan menjadi benteng terakhir rakyat? Apakah kita rela menyerahkan masa depan bangsa ini pada generasi yang lebih sibuk mengejar likes di Instagram daripada memahami derita petani yang tanahnya digusur? Pada generasi yang mengutamakan karier pribadi tetapi buta terhadap jeritan rakyat yang terpinggirkan?

Sudah saatnya kita menggugat kembali bukan hanya sistem politik yang menindas, tapi juga generasi mahasiswa yang sudah kehilangan jati dirinya. Menjadi mahasiswa bukan sekadar soal belajar di kelas dan lulus tepat waktu. Lebih dari itu, menjadi mahasiswa adalah soal tanggung jawab moral dan keberpihakan kepada rakyat. Jika keberpihakan itu sudah hilang, maka mahasiswa bukan lagi kekuatan perubahan, melainkan bagian dari status quo.

Mahasiswa harus bangkit. Bukan sekadar hadir dalam aksi, tapi benar-benar memahami esensi perjuangan. Bukan sekadar ikut-ikutan, tapi menyelami akar masalah. Karena sekali mahasiswa berhenti berpikir dan merasa, maka tamatlah sudah harapan rakyat terhadap kekuatan moral bangsa ini

Berita Terkait

Perkuat Nilai Kebersamaan, Ketum Dulur Sikep Nyawi Bawa Semangat “Urip Ya Urup”
Pemprov DKI Jakarta Berlakukan PJJ Akibat Paparan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Prof DR Sutan Nasomal Sangat Heran..DI TENGAH LUASNYA KEMISKINAN RAKYAT PARA LEMBAGA TINGGI DAN KEMENTRIAN MINTA NAIK ANGGARAN !!!
Soroti Temuan BPK dan Dugaan Skandal Pengelolaan KPR, KAMAKSI Desak APH Periksa Direktur Utama BTN
KAMAKSI Desak Dirut BTN Benahi Carut Marut KPR
Habib Bahar bin Smith Angkat Bicara Terkait Tewasnya Warga Pejompongan dalam Kericuhan
Prof DR Sutan Nasomal : Presiden Harus Sadar. Bisa Terjadi Krisis Kelaparan Meluas. Pedagang Dengan Modal Kecil Mengalami Kebangkrutan Dampak Daya Beli Masyarakat Hilang
Prof DR Sutan Nasomal : Presiden Harus Sadar. Bisa Terjadi Krisis Kelaparan Meluas. Pedagang Dengan Modal Kecil Mengalami Kebangkrutan Dampak Daya Beli Masyarakat Hilang

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 23:34 WIB

Rampung 100 Persen, Jembatan Gantung Perintis Garuda Siap Difungsikan untuk Masyarakat

Selasa, 22 September 2026 - 07:16 WIB

Wujud Sinergitas, Personel Koramil Gantarang Bersama Warga Gotong Royong Bangun Jembatan Beton Garuda

Selasa, 22 September 2026 - 07:13 WIB

Hubungkan 3 Desa, Koramil 1411-03/Kajang Gelar Karya Bakti Genjot Pembangunan Jembatan Perintis

Selasa, 22 September 2026 - 07:11 WIB

Wujud Kemanunggalan, Personel Koramil 1411-07/Herlang Bersama Warga Gotong Royong Bangun Jembatan Beton Garuda

Senin, 21 September 2026 - 03:50 WIB

Genjot Pembangunan Jembatan Garuda, TNI dan Warga Herlang Bulukumba Kompak Gotong Royong

Senin, 21 September 2026 - 03:47 WIB

Sinergi TNI-Rakyat, Koramil 1411-03/Kajang dan Warga Gotong Royong Bangun Jembatan Gantung Perintis Garuda

Sabtu, 19 September 2026 - 08:11 WIB

Tingkatkan Akses Antardesa, Personel Koramil 1411-07/Herlang Bersama Warga Gotong Royong Bangun Jembatan Garuda

Rabu, 16 September 2026 - 04:24 WIB

Wujud Sinergitas, TNI dan Warga Gotong Royong Rampungkan Jembatan Gantung Perintis Garuda di Bulukumpa

Berita Terbaru