Warga Mulai Antre Air Galon, Bukan Lagi Antre Gas

baraNews

Senin, 31 Agustus 2026 - 18:24 WIB

5051 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BARANEWS | Sore kemarin saya dan istri pergi belanja. Tujuannya sederhana, membeli air mineral di swalayan langganan. Tidak ada firasat apa-apa. Tidak ada yang istimewa. Namun, perjalanan sore itu justru menyuguhkan pemandangan membuat dada terasa sesak.

Di sepanjang jalan, kami melewati sejumlah tempat pengisian air galon. Beberapa tutup. Selebihnya penuh sesak oleh warga. Antrean mengular. Galon-galon kosong berjajar. Orang-orang menunggu. Saya terdiam.

Sejak kapan warga Pontianak antre membeli air? Biasanya yang diantre adalah tabung gas dan beli bensin di SPBU. Kini air pun ikut diperebutkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tempat pengisian air galon merek Biru di Jalan Tabrani Ahmad Pontianak, antrean warga terlihat panjang. Pemandangan serupa saya temukan di Jalan Wahidin. Tertulis Rp10 ribu, biasanya cuma Rp8 ribu. Dari teman-teman, saya mendapat informasi, warga semakin sulit mendapatkan air galon.

Kami melanjutkan perjalanan. Mencari air mineral dalam kemasan. Saya berpikir, setidaknya swalayan masih aman. Ternyata saya keliru. Satu dus air mineral yang biasanya Rp56 ribu, kini menjadi Rp60 ribu.

Naik Rp4 ribu. Kami membeli satu dus saja. Bukan karena cukup. Tetapi karena sadar, mungkin ada orang lain yang juga membutuhkan. Kami mencoba swalayan lain. Harganya sama. Rp60 ribu.

Pembeli semakin ramai. Air mineral diborong. Rak-rak mulai kosong. Pemandangannya terasa ganjil. Orang-orang berebut air. Ironisnya, air bukan barang mewah. Air adalah kehidupan. Lalu mengapa mendapatkannya terasa seperti memenangkan perlombaan? Jawabannya ada di keran rumah warga.

Air ledeng di Kota Pontianak dan Kubu Raya sedang menghadapi persoalan serius. Air baku untuk ledeng telah terdampak masuknya air laut. Akibatnya, sebagian warga terpaksa mandi dan mencuci dengan air asin. Kalian bisa bayangkan, air ledeng asin menyiram tubuh dari rambut sampai kaki.

Air galon pun akhirnya bukan sekadar untuk diminum. Dipakai memasak. Dipakai mencampur air ledeng yang asin agar menjadi payau. Bahkan ada warga harus menggunakan air galon untuk membilas rambut. Nuan bayangkan. Air yang seharusnya diminum, sekarang dipakai untuk menyelamatkan rambut dari air asin.

Sementara itu, di luar rumah, asap semakin pekat. Langit kehilangan warna. Napas menjadi berat. Air menjadi sulit. Harga naik. Rakyat kembali diminta bersabar. Sabar menghadapi asap. Sabar menghadapi air asin. Sabar menghadapi harga. Sabar menghadapi semuanya.

Mungkin benar, rakyat Indonesia memang paling hebat dalam satu hal, bertahan hidup. Tetapi sampai kapan? Sampai air minum menjadi barang mewah? Sampai orang miskin harus memilih antara membeli beras atau membeli air? Sampai anak-anak mandi dengan air asin, sementara orang-orang berkuasa mandi dengan air yang entah berasal dari mana?

Ini bukan sekadar cerita tentang air. Ini cerita tentang kehidupan yang perlahan menjadi mahal. Sore itu saya pulang membawa satu dus air mineral. Tetapi hati saya justru terasa kosong.

Saya membayangkan seorang ibu menghitung uang belanja: beras, minyak, lauk, kebutuhan anak, lalu sekarang air. Saya membayangkan seorang bapak berdiri lama membawa galon kosong, takut ketika gilirannya tiba, air sudah habis. Saya membayangkan anak-anak hanya ingin mandi dengan air tawar.

Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin hidup normal. Bisa bernapas tanpa asap. Bisa mandi tanpa air asin. Bisa minum tanpa harus berebut.

Apakah itu terlalu mahal untuk rakyat? Pontianak hari ini seperti sedang diuji dari segala arah
Langit mengirim asap. Laut mengirim asin. Pasar mengirim kenaikan harga. Rakyat? Rakyat hanya mengirim doa.

Sebab ketika udara sudah sulit dihirup dan air sudah sulit didapat, ternyata yang paling murah di negeri ini memang cuma satu, kesabaran rakyat.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Berita Terkait

Pemprov DKI Jakarta Berlakukan PJJ Akibat Paparan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Prof DR Sutan Nasomal Sangat Heran..DI TENGAH LUASNYA KEMISKINAN RAKYAT PARA LEMBAGA TINGGI DAN KEMENTRIAN MINTA NAIK ANGGARAN !!!
Soroti Temuan BPK dan Dugaan Skandal Pengelolaan KPR, KAMAKSI Desak APH Periksa Direktur Utama BTN
KAMAKSI Desak Dirut BTN Benahi Carut Marut KPR
Habib Bahar bin Smith Angkat Bicara Terkait Tewasnya Warga Pejompongan dalam Kericuhan
Prof DR Sutan Nasomal : Presiden Harus Sadar. Bisa Terjadi Krisis Kelaparan Meluas. Pedagang Dengan Modal Kecil Mengalami Kebangkrutan Dampak Daya Beli Masyarakat Hilang
Prof DR Sutan Nasomal : Presiden Harus Sadar. Bisa Terjadi Krisis Kelaparan Meluas. Pedagang Dengan Modal Kecil Mengalami Kebangkrutan Dampak Daya Beli Masyarakat Hilang
PROF DR SUTAN NASOMAL SARJANA TEMBUS LEBIH DARI 1 JUTA MENGANGGUR DI INDONESIA. JANJI PRESIDEN DI TAGIH RAKYAT

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 19:35 WIB

Erupsi Gunung Anak Krakatau Lumpuhkan 8 Bandara, 712 Penerbangan Dibatalkan

Minggu, 6 September 2026 - 19:29 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Operasional Penyeberangan Merak-Bakauheni Tetap Dipaksakan Berjalan

Minggu, 6 September 2026 - 18:35 WIB

Komdigi Klaim Blokir 8,8 Juta Lebih Situs Judi Online

Jumat, 4 September 2026 - 18:44 WIB

Mengapa Kasus Keracunan pada Program Makan Bergizi Gratis Terus Terjadi dan Menelan Ribuan Korban di Berbagai Daerah?

Jumat, 4 September 2026 - 07:12 WIB

Gubernur Kalbar Bentak Mahasiswa Saat Dicegat di Bandara, Tuntutan Karhutla Meledak di Depan Umum

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:49 WIB

Respons Hercules soal Kericuhan Pascademo DPR dan Komunikasi dengan Habib Bahar

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:44 WIB

Video Lama Wakil Gubernur Kalimantan Barat Kembali Viral di Tengah Sorotan Terhadap GRIB Jaya

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:01 WIB

DPP SWI Dorong Kepengurusan yang Efektif demi Pelayanan Organisasi yang Lebih Optimal

Berita Terbaru