Oleh : Asma Sulistiawati (Pegiat Literasi)
Di tengah dunia yang semakin bisu melihat tragedi kemanusiaan, ribuan aktivis dari berbagai negara justru memilih bergerak. Mereka berjalan kaki, menembus perbatasan, menantang larangan, dan menolak diam. Tujuannya satu: Gaza.
Apa yang mereka lakukan bukan hal kecil. Bukan aksi simbolik. Tapi bentuk nyata dari sebuah kesadaran bahwa ketidakadilan di Palestina bukan lagi masalah lokal, tapi luka global.
Sejak awal Juni 2025, gelombang solidaritas dari berbagai penjuru dunia mengalir menuju Gaza. Sebanyak 1.500 aktivis dari berbagai negara memulai “Konvoi Soumoud” dari Tunis pada 9 Juni, melewati Libya dan berencana masuk Mesir lalu ke Rafah (AP News, 12 Juni 2025). Sementara itu, lebih dari 4.000 aktivis lainnya berkumpul di Kairo, membentuk gelombang aksi damai “Global March to Gaza” (Middle East Eye, 13 Juni 2025).
Para peserta datang dari lebih dari 40 negara. Mereka bukan pasukan militer, bukan bagian dari organisasi bersenjata. Mereka adalah dokter, mahasiswa, ibu rumah tangga, tokoh publik, hingga jurnalis. Mereka hanya membawa satu senjata: nurani.
Namun alih-alih disambut sebagai misi kemanusiaan, mereka ditahan, diintimidasi, bahkan dideportasi. Otoritas Mesir menangkap lebih dari 200 aktivis di bandara dan hotel, dan 88 orang di antaranya langsung dideportasi (Reuters, 13 Juni 2025). Termasuk di antaranya anggota parlemen Irlandia, Paul Murphy, yang bahkan paspornya disita (The Sun, 13 Juni 2025).
Apa artinya ini?
Saat nurani dianggap ancaman
Aksi damai ini menunjukkan betapa dunia sedang terbalik. Ketika yang membawa senjata diizinkan lewat, tapi yang membawa bantuan dicegat. Ketika serangan brutal ke rakyat sipil dianggap “hak membela diri”, tapi ribuan aktivis berjalan kaki justru dicurigai.
Ini bukan sekadar pengkhianatan pada nilai-nilai kemanusiaan. Ini bukti bahwa sistem dunia saat ini tidak berpihak pada keadilan, tapi tunduk pada kekuasaan.
Israel telah memblokade Gaza selama lebih dari 17 tahun. Sejak Oktober 2023, serangan intensif Israel telah menewaskan lebih dari 35.000 warga sipil, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Fasilitas kesehatan, rumah ibadah, bahkan jalur evakuasi pun dibom. Tapi dunia diam. Lembaga internasional macet. Pemimpin-pemimpin dunia Islam terbelah, sibuk beretorika.
Maka wajar jika kini rakyat bangkit. Rakyat dari segala bangsa, ras, dan agama, yang bersatu karena satu hal: rasa kemanusiaan.
Umat Islam, jangan jadi penonton
Ada pertanyaan menyakitkan yang harus kita jawab: Di mana umat Islam saat Gaza dihancurkan?
Mengapa justru ribuan aktivis non-Muslim yang turun tangan lebih dulu, sementara umat Islam masih sibuk berdebat di ruang virtual? Mengapa solidaritas umat sering kali berhenti pada doa dan hashtag?
Gaza bukan hanya soal kemanusiaan. Gaza adalah ujian kepedulian umat. Ujian persatuan. Ujian keberanian.
Saat para aktivis dari Eropa berani melawan represi hanya untuk menyuarakan Palestina, mengapa kita yang satu aqidah, satu kiblat, dan satu saudara iman, justru bungkam?
Kita tidak semua bisa pergi ke Gaza. Tapi kita semua bisa bersuara. Kita bisa menekan pemerintah kita untuk bersikap. Kita bisa mendukung gerakan boikot. Kita bisa bantu mengedukasi masyarakat. Kita bisa berdonasi. Dan yang paling penting, kita bisa menanamkan di hati bahwa perjuangan ini belum selesai.
Solusi tidak cukup dengan simpati
Perjuangan Gaza bukan hanya soal bantuan kemanusiaan. Yang dibutuhkan bukan hanya makanan, obat, dan air bersih. Yang paling dibutuhkan adalah pembebasan. Hanya dengan mengakhiri penjajahan dan blokade, rakyat Gaza bisa hidup layak seperti manusia lainnya.
Dan ini butuh perjuangan politik yang besar—bukan hanya dari negara-negara mayoritas Muslim, tapi dari seluruh umat yang sadar bahwa dunia ini sedang tidak baik-baik saja.
Selama umat masih tercerai-berai oleh nasionalisme, dibungkam oleh ketakutan, dan disibukkan oleh urusan pribadi, maka kekuatan penjajah akan tetap berjaya. Tapi saat umat bersatu, menyatukan arah perjuangan, dan kembali pada Islam sebagai sistem kehidupan di situlah kekuatan sejati lahir.
Menolak mati rasa
Aksi ribuan aktivis ini adalah peringatan bagi kita semua: Jangan mati rasa.
Jangan anggap Gaza sebagai sekadar berita harian. Jangan lupakan wajah anak-anak yang tertimbun reruntuhan. Jangan biasakan hati untuk membenarkan kekerasan. Gaza mengingatkan kita bahwa dunia ini butuh keberanian. Butuh suara yang tak bisa dibungkam. Dan butuh umat yang tidak takut melawan ketidakadilan.
Hari ini, mereka berjalan kaki menuju Gaza. Esok, semoga kita semua berjalan menuju kesadaran, persatuan, dan kebangkitan. Karena Palestina tak butuh simpati sesaat. Tapi butuh umat yang siap memperjuangkan kemerdekaannya sampai akhir.
Walllahu’alam
































