Hancurnya Mentalitas Generasi Buah Sekularisme, Siapa yang Bertanggung Jawab?

baraNews

Minggu, 9 Maret 2025 - 18:32 WIB

50436 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis: Samsinah, Amd.Keb (Muslimah Peduli Umat)

Generasi muda merupakan agend of change, namun apa yang terjadi hari ini membuat kita semakin khawatir bahwa generasi muda saat ini tampak kian rusak baik dari segi fisik maupun mentalnya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Kementrian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bahwa remaja yang menderita kesehatan mental sangat tinggi, yaitu mencapai 15,5 juta orang atau setara 34,9 persen dari total remaja Indonesia. Data tersebut adalah hasil survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey pada 2024. (Tempo.co, Senin 17/2/2025)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wakil menteri kependudukan Ratu Ayu Isyana Bagus Oka sebagai wakil menteri kependudukan turut menyampaikan bahwa generasi muda memang menghadapi tantangan yang semakin kompleks, kesehatan mental salah satunya.

Isyana juga menyoroti selain masalah mental dikalangan generasi juga berkembang fenomena childfree yaitu banyaknya generasi muda merasa takut untuk menikah atau memilih untuk tidak memiliki anak. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional pada tahun 2022 yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik), sekitar 72.000 atau 8,2 persen perempuan memilih untuk hidup tanpa memiliki anak. (Disway.id Minggu, 16/2/2025)

Sungguh memprihatinkan, angka remaja penderita gangguan kesehatan mental sangat tinggi, sehingga menimbulkan pertanyaan, apa yang terjadi dengan mereka? Siapa yang bertanggung jawab atas fenomena ini? Bukankah remaja adalah anak usia sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas/kejuruan? Artinya, mereka telah terdidik secara formal dengan kurikulum yang sudah berkali-kali diganti?

Harus ada upaya untuk menyelesaikan masalah ini. Mulai identifikasi penyebab persoalan hingga dirumuskan solusinya secara tepat. Bila tidak, mimpi Indonesia emas 2045 mustahil terwujud. Bukan menjadi Indonesia Emas, tetapi yang terjadi justru Indonesia cemas karena kondisi mental generasi muda yang bermasalah.

Buah dari Sekularisme

Sangat miris, seseorang dengan begitu mudahnya mengalami stres hingga depresi akibat tata kehidupan sekuler. Sistem ini dengan kejamnya merusak generasi dengan kebebasan. Akibatnya generasi muda menjadi jauh dari peran mereka yang seharusnya sebagai agen perubahan.

Sementara itu, negara yang secara sadar menerapkan sistem kapitalisme juga berdampak mewarnai kehidupan dalam berbagai aspek. Sungguh sistem ini sangat mempersempit ruang hidup manusia, menjauhkan agama dari kehidupan, dan mengalihkan tujuan hidup manusia dengan fokus pada materi saja. Dimana keluarga yang seharusnya menjalankan fungsi pendidikan, gagal akibat disibukkan mengejar materi. Keluarga yang seharusnya diperhatikan, kini menjadi korban yang terabaikan. Kerapuhan keluarga juga menjadi salah satu penyebab besar munculnya masalah kesehatan mental.

Bukan hanya keluarga, sekolah pun memiliki peran penting dalam membangun kesehatan mental anak. Namun miris, pendidikan sekuler saat ini justru membentuk remaja berperilaku liberal, gagal memahami jati dirinya. Remaja pun gagal memahami penyelesaian yang shahih atas segala persoalan kehidupannya. Akibatnya, penyakit mental pun tak terhindarkan.

Dalam sistem saat ini, sekolah malah seolah difungsikan hanya untuk mengejar target materi semata. Sekolah hanya fokus pada kurikulum yang mencetak pekerja, bukan sebagai penemu. Proses pembelajaran yang tidak mampu membentuk benteng iman dan takwa. Makin menghantarkan anak pada jiwa yang gersang, jauh dari siraman akidah Islam. Akibatnya, lahirlah jiwa-jiwa rapuh yang mudah putus asa, depresi, dan berakhir bunuh diri.

Selain itu negara membiarkan media massa dan media sosial mempromosikan gaya hidup hedonistik ala Barat. Alhasil para remaja yang minim filter akhirnya terbawa arus bersikap konsumtif. Ketidakmampuan memenuhi tuntutan gaya hidup yang berdampak pada tekanan mental.

Tidak hanya itu, dalam sistem kapitalisme, negara lepas fungsi dan kontrol terhadap rakyatnya. Negara yang seharusnya mengayomi dan melayani rakyat. Sayangnya, kebijakan-kebijakannya kini lebih condong kepada pemilik modal dan menambah beban berat rakyat. Sistem saat ini ibarat api yang sedikit demi sedikit membakar tiap-tiap sendi kehidupan.

Lantas bagaimana seharusnya masalah kesehatan mental ini diselesaikan kalau ternyata sistem hari ini hanya menambah masalah. Tentu kita harus kembali pada aturan sang pencipta. Dialah yang menciptakan manusia dengan seperangkat dengan aturannya, maka mesti kita mengambil aturan itu bukan malah seenaknya membuat aturan sendiri. Karena menggunakan aturan dari sang pencipta berarti kita mendapat jaminan kehidupan yang terbaik dunia dan akhirat. Penerapan syariah islam secara menyeluruh adalah satu satunya solusi dari segala problematika yang ada.

Sistem Islam Melindungi Generasi

Kepemimpinan Islam memastikan tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang berkualitas. Hal ini senada dengan semangat untuk memenuhi perintah Allah Taala dalam QS Ali Imran ayat 110, “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kalian menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Hal ini diterapkan dalam berbagai sistem kehidupan sesuai dengan syariat Islam. Dalam kitab karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa: “Akidah Islam adalah dasar negara. Segala sesuatu yang menyangkut institusi negara, termasuk meminta pertanggungjawaban atas tindakan negara harus dibangun berdasarkan akidah Islam. Akidah Islam menjadi asas undang-undang dasar dan perundang-undangan syar’i. Segala sesuatu yang berkaitan dengan undang-undang dasar dan perundang-undangan, harus terpancar dari akidah Islam.” (Nizhomul Islam Bab Rancangan Undang-Undang Dasar, Hukum Umum Pasal 1 Hal. 153).

Oleh karena itu, Islam mewajibkan negara membangun sistem pendidikan yang berasas akidah Islam. Negara juga wajib menyiapkan orang tua dan masyarakat untuk mendukung proses pembentukan generasi pembangun peradaban Islam yang mulia, yang bermental kuat. Generasi itulah yang diharapkan akan membawa perubahan untuk kemajuan Islam.

Negara Islam (Khilafah) akan melindungi mental remaja dengan menetapkan kebijakan yang menjauhkan remaja dari segala pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Selain itu, negara juga menyediakan layanan kesehatan mental secara gratis yang terintegrasi dalam layanan kesehatan. Layanan ini tersedia berjenjang dari tingkat kota, provinsi, hingga ibu kota negara sehingga rakyat mudah mengaksesnya. Dengan penerapan Islam kafah di dalam institusi Khilafah, terwujudnya generasi terbaik tidak hanya berupa mimpi, tetapi terwujud nyata.

Wallahu a’lam bishawab

Berita Terkait

Kebutuhan Gizi Masyarakat Dijamin Penuh Negara
Sistem Kapitalis Bengis Menjadikan Pajak dan Bea Cukai Tumpuan Pendapatan Negara
SWI: Jangan Biarkan Kekerasan Terhadap Jurnalis Menjadi Budaya Baru
SWI Tegaskan Kebebasan Pers Bukan Monopoli: Tolak Narasi Wajib Kerja Sama dengan PWI
Negeri Merdeka, Anak Rakyat Sulit Sekolah
Krisis Tenaga Kerja dan Kegagalan Kapitalisme Mewujudkan Kesejahteraan
Pajak : Instrumen Kapitalisme untuk Bertahan dengan Mengorbankan Rakyat
Mampukah Kampung Tangguh Mencegah Narkoba di IKN?

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 17:12 WIB

Gema Davos, Ranny Fahd A Rafiq Kawal Langkah Berani Presiden Prabowo untuk Gaza lewat BoP

Minggu, 19 April 2026 - 17:07 WIB

Fahd A Rafiq : Gebrakan dari ‘Papan Tengah’ Mengunci Kedaulatan Palestina lewat Board of Peace”, Dukung Penuh Langkah Presiden Prabowo Subianto

Jumat, 10 April 2026 - 15:37 WIB

Langkah Besar Dimulai di Bandung, XTC Gelar Rakernas I

Jumat, 10 April 2026 - 13:17 WIB

DPRD Boyolali Dukung HKPS 2026 dan Munas SWI

Jumat, 3 April 2026 - 18:47 WIB

Ketua gerakan Aktivis Muda Rohil Kritik Narasi Larshen Yunus : Jangan Seret Urusan Privat ke Panggung Politik

Jumat, 27 Maret 2026 - 06:27 WIB

Petisi Ahli dan MIO Indonesia Tekankan Pentingnya Pembenahan KPK

Senin, 16 Maret 2026 - 15:24 WIB

Belanja Sewa Hotel Rp3 Miliar di Dinkes KBB Disorot, Diduga Abaikan Efisiensi dan Transparansi

Sabtu, 14 Maret 2026 - 22:31 WIB

Sentuhan Kayu Sonokeling, Fawaz Salim Hidupkan Kembali Suzuki Jimny LJ80 dan VW Safari dalam Skala Asli

Berita Terbaru

PASAMAN BARAT

Sebanyak 70 Peserta Paskibraka memasuki tahap Krusial

Rabu, 22 Apr 2026 - 06:08 WIB