Dampak Eksploitasi: di Perairan Jembatan pun Tak Aman

baraNews

Selasa, 4 Maret 2025 - 14:16 WIB

50489 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin

Insiden tongkang bermuatan kayu yang menabrak Jembatan Mahakam pada 16 Februari 2025 menjadi perhatian di Kalimantan Timur, terutama terkait kondisi terkini jembatan tersebut. Tabrakan ini menyebabkan fender atau pelindung pilar jembatan hancur, dan beberapa bagian struktur jembatan mengalami kerusakan.

Peristiwa naas ini terjadi sekitar pukul 15.50 WITA, ketika tongkang Indosukses 28, yang ditarik oleh tugboat MTS 28, kehilangan kendali akibat arus deras di Sungai Mahakam dan menabrak Pilar 3. Polresta Samarinda telah mengambil tindakan dengan memeriksa sembilan saksi terkait insiden ini, termasuk nahkoda kapal, kapten, kru, pandu, agen kapal, dan perwakilan Dinas PUPR. (Kompas.co, 22/2/2025)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Hotel Fourpoints, Kota Balikpapan, Senin (24/2/2025), pihak DPRD Kaltim memanggil dan mengundang semua pihak terkait. Ketua DPRD Kaltim, Ketua Komisi II DPRD Kaltim dan anggotanya, BBPJN Kaltim, KSOP Kelas I A Samarinda, Pelindo, Polresta Samarinda, hingga pemilik kapal nampak hadir dalam rapat.

Kesepakatan rapat akhirnya diputuskan, jembatan yang sudah berumur 33 tahun ini tersebut ditutup sementara sampai hasil investigasi selesai. Sebagai dampak dari penutupan ini, arus lalu lintas akan dialihkan sepenuhnya ke Jembatan Mahakam IV yang saat ini membentang di samping Jembatan Mahakam lama. (Tribunkaltim.co, 25/2/2025)

Eksploitasi ala kapitalisme Membawa Mudharat

Jembatan Mahakam ditabrak tongkang pengangkut batu bara dan kayu sudah beberapa kali terjadi. Hal ini menggambarkan betapa arus lalu lintas air sungai Mahakam sering dilalui akan eksploitasi SDAE. Tentunya hal ini tidak cukup dengan solusi teknis seperti perbaikan jembatan. Tetapi solusi sistemis menyentuh akar persoalan yakni menghentikan eksploitasi yang dilegalkan oleh sistem saat ini.

Sistem kapitalisme telah menyerahkan seluruh kekayaan SDAE pada swasta. Sistem Kapitalisme telah membebaskan kepemilikan SDAE sehingga berbuah mudharat. Hasil SDAE melimpah namun sayang hanya sekedar lewat di arus sungai, jembatan pun terancam. Regulasi sistem membolehkan maka persolan ini akan terus terulang.

Ganti rugi perbaikan jembatan sebagai pertanggungjawaban tidaklah salah. Hanya saja mengingat jembatan sebagai fasilitas umum maka negara atau penguasalah yang seharusnya bersegera untuk memperbaikinya. Negara harus segera menghentikan arus eksploitasi SDAE.

Sayangnya, penerapan ekonomi Kapitalisme telah melumpuhkan peran negara sebagai pelayan rakyat termasuk dalam pemenuhan infrastruktur yang vital seperti jembatan. Negara bertanggung jawab dengan cepat agar jembatan bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Infrastruktur dalam Islam Maslahat Bagi Umat

Infrastruktur dalam Islam merupakan prasarana yang dibuat demi kemaslahatan umat. Secara umum, infrastruktur merupakan fasilitas umum yang dibutuhkan oleh semua orang, sehingga termasuk dalam kategori marâfiq al-jamâ’ah, seperti air bersih, listrik, dan sejenisnya. Begitu juga termasuk fasilitas umum yang tidak mungkin dimonopoli oleh individu, seperti jalan raya, laut, udara, dan sejenisnya. Semuanya ini merupakan bagian dari infrastruktur yang dibutuhkan oleh seluruh manusia dan wajib disediakan oleh negara. Karena ini merupakan fasilitas umum, maka penggunannya pun gratis, tanpa dipungut biaya.

Sistem ekonomi Islam menjadikan Baitulmal yang dikelola negara sebagai jantung peredaran perekonomian. Adapun pembangunan dalam sistem Khilafah tidak terlepas dari sistem ekonomi berbasis Islam. Negara Khilafah tidak akan membiayai pembangunan dengan utang, investasi, hingga membebani BUMN. Sebagai gantinya, Khilafah akan memberlakukan sistem ekonomi Islam yang menyeluruh dan murni. Hal ini terkait erat dengan kepemilikan, pengelolaan kepemilikan, serta distribusi dan jasa di tengah-tengah masyarakat.

Tidak hanya itu, negara juga akan memastikan berjalannya politik ekonomi dengan benar. Dengan penerapan sistem ekonomi Islam, Khilafah akan memiliki sumber kekayaan yang cukup untuk membiayai infrastruktur.

Kebijakan Khilafah dalam pembangunan infrastruktur ada beberapa tahapan. Pertama, Khilafah bisa membangun infrastruktur dengan dana baitulmal tanpa memungut sepeser pun dana masyarakat. Dengan kekayaan milik umum yang dikuasai dan dikelola oleh negara, ditambah kekayaan milik negara, maka tidak ada yang tidak mungkin.

Kedua, jika baitulmal tidak ada dana, maka harus dilihat jika proyek infrastruktur tersebut memang vital karena merupakan satu-satunya fasilitas umum yang dibutuhkan, atau karena satu dan lain hal sehingga harus ada. Dalam kondisi seperti ini, negara bisa mendorong partisipasi publik untuk berinfak. Jika tidak cukup, maka kaum Muslim, laki-laki dan mampu dikenakan pajak khusus untuk membiayai proyek ini hingga terpenuhi.

Pada saat yang sama, negara bisa mengajukan fasilitas kredit, baik kepada negara maupun perusahaan asing, tanpa bunga dan syarat yang bisa menjerat negara. Negara akan membayarnya dengan cash keras, setelah dana infak dan pajak tersebut terkumpul. Namun, kebijakan ini ditempuh dalam kondisi yang sangat terdesak. Meski, kemungkinan ini sangat kecil, mengingat sumber kekayaan negara khilafah yang membentang di 2/3 dunia saat sangat fantastis dan luar biasa.

Adapun jika proyek infrastruktur tersebut tidak vital, maka negara tidak perlu menarik pajak dari masyarakat. Negara juga tidak boleh mengambil fasilitas kredit, termasuk berutang kepada negara atau perusahaan asing untuk membiayai proyek ini. Negara tidak akan mengambil utang luar negeri untuk membiayai proyek infrastrukturnya.

Demikianlah tahapan biaya dan pembangunan infrastruktur dalam Islam. Perencanaan, pembuatan dan pembiayaan infrastruktur dalam Islam yang betul-betul memperhatikan umat. Khususnya jembatan maka negara juga akan segera memenuhi kebutuhan masyarakat karena itulah tuntutan syariat.
Wallahu’alam…

Berita Terkait

Kebutuhan Gizi Masyarakat Dijamin Penuh Negara
Sistem Kapitalis Bengis Menjadikan Pajak dan Bea Cukai Tumpuan Pendapatan Negara
SWI: Jangan Biarkan Kekerasan Terhadap Jurnalis Menjadi Budaya Baru
SWI Tegaskan Kebebasan Pers Bukan Monopoli: Tolak Narasi Wajib Kerja Sama dengan PWI
Negeri Merdeka, Anak Rakyat Sulit Sekolah
Krisis Tenaga Kerja dan Kegagalan Kapitalisme Mewujudkan Kesejahteraan
Pajak : Instrumen Kapitalisme untuk Bertahan dengan Mengorbankan Rakyat
Mampukah Kampung Tangguh Mencegah Narkoba di IKN?

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:19 WIB

Dorong Budidaya Legal, Dittipidter Bareskrim Polri dan KKP Selamatkan Benih Lobster

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:08 WIB

HUT Ke-62 Golkar, Ketua DPD II Bulukumba Ajak Kader Ziarah ke TMP Taccorong: Golkar Partai Besar, Tidak Mudah Terpecah

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:14 WIB

Sambut HUT Humas Polri ke-75, Humas Polres Bulukumba Gelar Bakti Sosial Donor Darah

Selasa, 20 Oktober 2026 - 01:55 WIB

Babinsa Koramil 1411-07/Herlang Dampingi Pemasangan AC di KDKMP Desa Pataro

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:58 WIB

Wujud Pengabdian,H. Ilham Bahtiar Fasilitasi Bantuan puluhan Unit Komputer untuk Sekolah di Bulukumpa

Senin, 19 Oktober 2026 - 06:26 WIB

HUT Humas Ke 75, Humas Polres Bulukumba Salurkan Sembako Ke Pondok Pesantren dan Panti Asuhan.

Minggu, 18 Oktober 2026 - 19:20 WIB

Wali Kota Kendari Pimpin Penggerebekan Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di SPBU Saranani

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:37 WIB

Prof. Dr. Sutan Nasomal Dukung Empat Pemred di Riau Tempuh Langkah Hukum Balik atas Laporan Juari, Desak Dugaan Pelanggaran UU ASN dan UU Perkawinan Diusut!

Berita Terbaru

Jakarta

Agus Kliwir Minta Kapolri Bongkar Jaringan Mafia

Selasa, 20 Okt 2026 - 18:17 WIB