PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah memasuki fase paling berbahaya. Tidak hanya membakar permukaan, api kini menjalar di bawah tanah dan menciptakan lubang-lubang api yang sulit dipadamkan di wilayah Palangka Raya.
Berdasarkan informasi, fenomena kebakaran bawah tanah itu terdokumentasi dalam tiga fase yang menggambarkan betapa masifnya karhutla yang terjadi. Dari udara, kobaran api berwarna oranye terlihat memotong rapatnya tutupan hutan dengan kepulan asap kelabu pekat yang menyelimuti kawasan. Di permukaan, bara api menyala merah di bawah lapisan gambut, menandakan pembakaran subsurface yang terus menjalar.
Fenomena tersebut terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pada dokumentasi terbaru yang beredar pada 15 Oktober 2026, terlihat seorang petugas dengan helm putih yang dilengkapi lampu kepala dan masker respirator berjongkok di dekat lubang api yang menganga. Tulisan besar di lokasi menyebut Lubang Api Bawah Tanah Karhutla Kalimantan, penanda bahwa kebakaran gambut tidak lagi kasat mata.
Kebakaran bawah tanah merupakan jenis kebakaran paling sulit ditangani dalam kasus karhutla. Api dapat bertahan berminggu-minggu di dalam lapisan gambut kering, merambat tanpa terlihat, dan sewaktu-waktu menyembul kembali ke permukaan ketika angin dan suhu mendukung. Kondisi ini membuat upaya pemadaman manual nyaris sia-sia tanpa hujan deras dan peralatan khusus.
Situasi ini memicu keprihatinan luas. Di tengah kabut asap lintas provinsi yang mulai dirasakan hingga wilayah lain, harapan akan turunnya hujan menjadi satu-satunya sandaran. Doa agar hujan yang mengguyur Aceh dapat bergeser ke Kalimantan pun bermunculan, mencerminkan keputusasaan warga menghadapi krisis lingkungan yang berulang setiap tahun.
Kejadian di Palangka Raya ini kembali menegaskan lemahnya pencegahan karhutla di lahan gambut. Tanpa penegakan hukum yang keras terhadap pembakar lahan dan tanpa pengelolaan gambut yang serius, lubang api bawah tanah akan terus menjadi bom waktu yang mengancam kesehatan, penerbangan, dan keberlangsungan hidup masyarakat Kalimantan. (*)

































