Mengeja Kasih : menilik ulang sebuah pondasi dalam “keluarga”

baraNews

Rabu, 9 April 2025 - 14:14 WIB

50442 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berbicara tentang rumah, tak terbatas hanya melihat bagaimana furniture mewah atau bahkan tata letaknya yang luas dan megah, pada hakikatnya, rumah bukan hanya sekadar menjadi definisi tempat untuk tinggal. Akan tetapi bagaimana Rumah menjadi pondasi pertama belajar mengenali rasa aman, memupuk cinta, dan membentuk jati diri. Ketika kehangatan itu hadir, semua akan tumbuh menjadi pribadi yang merasa diterima, berani menjadi diri sendiri, dan mampu terbuka tanpa rasa takut. Rasa nyaman inilah yang membuat anak selalu ingin pulang dan menjadikan rumah sebagai tempat paling tenang untuk beristirahat.

Namun tak selamanya kehidupan berdampingan dengan bahagia, di kehidupan nyata ini, banyak terjadi konflik dalam keluarga yang terjadi dirumah, menyebabkan rumah menjadi dingin mengikis kehangatan disekitarnya. Konflik yang tidak ditangani dengan baik dapat merambat ke sebuah Kondisi dimana orang tua rentan terhadap stres selama masa pengasuhan. Jika terus berlanjut tanpa penyelesaian yang tepat, situasi ini berisiko melahirkan pola asuh yang keras, penuh bentakan, dan minim sentuhan kasih. Hal inilah yang mengembangkan risiko relasi tidak sehat dalam keluarga, khususnya antara orang tua dan anak.

Hal ini tentunya memiliki banyak faktor, namun umumnya banyak terjadi disaat Ketidaksiapan orang tua dalam menjalani peran dirumah tangga dan pengasuhan, baik dari sisi emosional maupun finansial, kerap memunculkan tekanan yang berujung pada konflik kompleks dalam proses rumah tangga serta tumbuh kembang anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini tidak akan menjamin hanya kehilangan rasa aman, namun juga rawan mengalami hambatan perkembangan emosional dan sosial. Dilansir dari Halodoc (2023), artikel berjudul “Dampak Keluarga yang Tidak Harmonis pada Psikologi Anak” menyebut bahwa anak yang menyaksikan konflik dalam keluarga berisiko tumbuh menjadi pribadi agresif, kesulitan mengelola emosi, hingga kehilangan rasa percaya diri. Ketika orang tua kurang memberikan pujian atau penguatan positif dalam keseharian anak, mereka akan cenderung bersikap pasif, pendiam, dan memilih menyendiri dibanding menjalin interaksi.

Orang tua perlu menyadari bahwa rumah yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, teriakan, atau bahkan sikap saling acuh, tak hanya merusak hubungan suami dan istri, tapi juga meninggalkan luka batin mendalam bagi seorang anak. Tanpa adanya komunikasi hangat dan penuh kasih, anak mudah merasa tertekan dan kehilangan kenyamanan di dalam rumah. Kedekatan dengan orang lain pun ikut terganggu akibat kurangnya perhatian dan kasih sayang yang ia dapat dari lingkungan keluarga. Dalam kondisi ini, bukan tidak mungkin anak akan mencari pelarian di lingkungan yang salah.

Pondasi dalam keluarga bukan hanya semata peran atau aturan, melainkan rasa hangat yang mengalir disertai peluk kasih dan dukungan, bila hal hal mendasar ini mulai terkikis hingga retak tanpa menyisakan apa-apa, maka rumah akan kehilangan maknanya sebagai tempat untuk pulang.

Sejatinya, tidak ada keluarga yang benar-benar sempurna. Setiap individu dalam keluarga tumbuh dengan keterbatasan dan perjuangannya masing-masing. Namun, menciptakan lingkungan keluarga yang aman, penuh dukungan, dan dilandasi kehangatan tetap menjadi tanggung jawab semua pihak. Karena pada akhirnya, rumah adalah tempat pertama bagi seorang anak untuk belajar mengenal cinta, menerima dirinya, dan merasa utuh sebagai manusia.

Berita Terkait

Kebutuhan Gizi Masyarakat Dijamin Penuh Negara
Sistem Kapitalis Bengis Menjadikan Pajak dan Bea Cukai Tumpuan Pendapatan Negara
SWI: Jangan Biarkan Kekerasan Terhadap Jurnalis Menjadi Budaya Baru
SWI Tegaskan Kebebasan Pers Bukan Monopoli: Tolak Narasi Wajib Kerja Sama dengan PWI
Negeri Merdeka, Anak Rakyat Sulit Sekolah
Krisis Tenaga Kerja dan Kegagalan Kapitalisme Mewujudkan Kesejahteraan
Pajak : Instrumen Kapitalisme untuk Bertahan dengan Mengorbankan Rakyat
Mampukah Kampung Tangguh Mencegah Narkoba di IKN?

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 19:35 WIB

Erupsi Gunung Anak Krakatau Lumpuhkan 8 Bandara, 712 Penerbangan Dibatalkan

Minggu, 6 September 2026 - 19:29 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Operasional Penyeberangan Merak-Bakauheni Tetap Dipaksakan Berjalan

Minggu, 6 September 2026 - 18:35 WIB

Komdigi Klaim Blokir 8,8 Juta Lebih Situs Judi Online

Jumat, 4 September 2026 - 18:44 WIB

Mengapa Kasus Keracunan pada Program Makan Bergizi Gratis Terus Terjadi dan Menelan Ribuan Korban di Berbagai Daerah?

Jumat, 4 September 2026 - 07:12 WIB

Gubernur Kalbar Bentak Mahasiswa Saat Dicegat di Bandara, Tuntutan Karhutla Meledak di Depan Umum

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:49 WIB

Respons Hercules soal Kericuhan Pascademo DPR dan Komunikasi dengan Habib Bahar

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:44 WIB

Video Lama Wakil Gubernur Kalimantan Barat Kembali Viral di Tengah Sorotan Terhadap GRIB Jaya

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:01 WIB

DPP SWI Dorong Kepengurusan yang Efektif demi Pelayanan Organisasi yang Lebih Optimal

Berita Terbaru